Batam, wbnnews -Etnis Rohingya yang melakukan migrasi ke Bangladesh pada umumnya merupakan korban kekerasan, okupasi militer, dan pembersihan etnis.
Pada awalnya Bangladesh menyambut baik kedatangan para pengungsi.
Bangladesh berharap dengan adanya pengungsi Rohingya yang datang ke negaranya dapat membantu meningkatkan perekonomian negaranya.
Pada tahun 1992 pemerintah Myanmar tidak henti-hentinya melakukan tindak represi terhadap Rohingya, hal ini membuat etnis Rohingya semakin merasa terintimidasi dan menimbulkan bertambahnya arus migrasi ke Bangladesh sebanyak 250.000 orang.
Pemerintah Bangladesh menyediakan kamp khusus untuk para pengungsi Rohingya.
Pengungsi Rohingya menempati wilayah dengan tingkat kemiskinan yang tinggi.
Menanggapi hal ini pada tahun 2006 pemerintah Bangladesh berupaya membenahi kualitas tempat tinggal para pengungsi Rohingya.
Alasan lain bertambahnya jumlah pengungsi Rohingya yang datang keBangladesh disebabkan karena adanya faktor struktural yang tidak mendukung adanya Rohingya untuk berada di Myanmar, seperti tidak adanya akses terhadap kesempatan dan kebebasan dasar.
Faktor kesamaan etnis dan agama membuat Rohingya merasa aman untuk menetap dan tinggal diBangladesh.
Peningkatan kualitas tempat tinggal para pengungsi yang dilakukan oleh pemerintah Bangladesh juga mendorong Rohingya untuk datang dan menetap diBangladesh.
Imigran paksa Rohingya yang tiba di Bangladesh tidak hanya menetap diwilayah pengungsian resmi.
Banyaknya jumlah pengungsi Rohingya yang masuk ke wilayah Bangladesh tersebar pula ke dalam wilayah pengungsian tidak resmi.
Pengungsi Rohingya Menimbulkan Banyak Persoalan Bagi Bangladesh,Sejak aliran migrasi paksa kedua, Bangladesh meminta lembaga internasional,UNHCR, untuk mendaftarkan sekitar 28.000 orang Rohingya sebagai pengungsi.
Namun jumlah populasi orang Rohingya meningkat pesat setelah kedatangan di tahun 1992.
Kebanyakan dari orang-orang Rohingya yang tidak terdaftar sebagai pengungsi menetap di kamp pengungsian sementara.
Dalam perkembangannya, kamp sementara menjadi wilayah pemukiman kumuh yang merusak lingkungan dan mengusik masyarakat lokal. (Ellgee, 2010)
Seiring berjalannya waktu, migrasi internasional dipandang sebagai masalah kemanusiaan yang kini menjadi masalah keamanan manusia.
Ketidakpastian akan keberadaan Rohingya di Bangladesh akhirnya memicu sentimen dari masyarakat Bangladesh.
Pada tahun 2009 terjadi kampanye anti Rohingya yang digerakkan oleh media dan elit politik untuk pertama kalinya.
Aksi penolakan terhadap Rohingya semakin menghangat pada Januari 2010.
Aksi sentimen masyarakat lokal ini diwujudkan pula melalui perlawanan fisik,
penangkapan dan pemenjaraan sekitar 500 orang Rohingya dari masyarakat kepada
orang-orang Rohingya, khususnya yang berada di kamp-kamp sementara.
Lain halnya dengan Presiden Ma’ruf Amin membuka peluang menjadikan Pulau Galang, Kota Batam, Provinsi Riau sebagai lokasi penempatan pengungsi Rohingya.
Ia berkata Pulau Galang di Batam sempat digunakan untuk menampung pengungsi asal Vietnam beberapa puluh tahun silam.
Sumber: CNN
Sumber:Siti Aulia Nurjanah
Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
















Discussion about this post