Wajah Batam news– Di sudut-sudut jalanan kota Batam yang sibuk, mereka berdiri tanpa seragam resmi, hanya berbekal peluit, rompi lusuh, dan semangat untuk bertahan hidup. Mereka adalah juru parkir jalanan—sosok yang kerap dianggap sepele, bahkan tak jarang dilabeli “preman” oleh sebagian media dan masyarakat. Namun, di balik stigma itu, ada cerita perjuangan yang tak pernah disorot.
“Saya kerja parkir sejak tahun 2009. Anaknya tiga, semua sekolah. Kalau bukan ini, saya mau kerja apa?” ujar Bung Salim (52), seorang juru parkir di kawasan Nagoya, saat ditemui pekan ini. Dengan nada datar tapi mata yang tajam, Salim mengisahkan betapa pekerjaan itu bukan sekadar peluit dan pungutan, tapi juga tanggung jawab menjaga keamanan kendaraan di jalan.
Ia mengaku sudah berkali-kali digiring razia. “Kadang diamankan, kadang dipukul mundur. Tapi besoknya saya balik lagi. Bukan karena saya keras kepala, tapi karena saya harus hidup.”ujarnya
Dianggap Liar, Padahal Menjaga
Dalam pemberitaan baru-baru ini, sejumlah media menyebutkan bahwa juru parkir liar adalah bagian dari masalah premanisme di Batam. Namun narasi itu dibantah oleh warga dan tokoh masyarakat yang melihat langsung fungsi sosial mereka.
“Kendaraan saya pernah diselamatkan dari aksi pecah kaca, karena ada juru parkir yang sigap langsung teriak dan kejar pelakunya,” kata Yohana (38), pemilik toko pakaian di daerah Jodoh. “Kalau mereka nggak ada, siapa yang jaga kendaraan kita?”
Menurut Yohana, para jukir juga punya sistem tak tertulis—mereka saling jaga, menghindari konflik, dan membantu mengatur lalu lintas ketika petugas tidak tampak di lapangan.
Pemerintah Diminta Hadir, Bukan Menghapus
Ismail aktivis sosial dari LSM Aliansi masyarakat Peduli kepri, menilai persoalan juru parkir tak bisa diselesaikan dengan pendekatan penertiban semata. “Ini bukan soal siapa benar siapa salah. Ini soal ruang hidup. Pemerintah Kota Batam mestinya mendata ulang para jukir, memberi pelatihan, dan memformalkan sistem parkir berbasis komunitas.”
Ia menyebut bahwa model integratif bisa diterapkan. “Tiap titik parkir bisa dibina, diberi seragam, karcis, dan pelatihan SOP. Dengan begitu, mereka tidak lagi disebut liar, dan pemerintah pun mendapat retribusi resmi.”
Solusi di Tengah Kota yang Terus Bertumbuh
Batam adalah kota niaga dan transit, tempat mobilitas tinggi menjadi ciri harian. Juru parkir adalah bagian dari ekosistem urban itu. Menghapus mereka tanpa solusi berarti menciptakan ledakan sosial dalam senyap.
“Saya tidak mau jadi preman. Saya mau kerja halal, meski cuma jadi tukang parkir. Kalau pemerintah bantu, saya siap ikut aturan,” kata Taufik (44), jukir lainnya yang biasa bertugas di Pasar Penuin.
Juru parkir bukan preman. Mereka adalah pekerja informal yang selama ini menambal bolongnya sistem parkir resmi. Dalam semrawutnya jalanan kota, suara peluit mereka kadang lebih nyata daripada kehadiran negara.
Batam tidak butuh sweeping yang membabi buta. Batam butuh solusi yang manusiawi.
















Discussion about this post