Batam , wbnnews– Nama kapal inisial “D ‘kini masuk dalam daftar perhatian publik, setelah disebut dalam investigasi penyelundupan Liquid vape mengandung zat etomidate golongan Narkotika yang berhasil diungkap Polda Kepri. Kapal ini beroperasi secara reguler mengangkut penumpang rute Johor–Batam, namun belakangan terungkap diduga menjadi kendaraan diam-diam bagi masuknya narkotika ke wilayah Indonesia.
Rekaman CCTV yang diperoleh penyidik menunjukkan bahwa koper berisi 3.205 liquid vape narkotika diambil langsung dari kapal D oleh seseorang inisial A, didampingi petugas KSOP inisial W. Tidak ada pencatatan kargo, tidak ada pemeriksaan intensif—koper langsung keluar dari area sandar.
Konfirmasi Terbatas dari Pengelola Pelabuhan
Tim redaksi mencoba meminta klarifikasi kepada Direktur PT. Metro Nusantara Bahari, perusahaan yang mengelola operasional Pelabuhan Internasional Batam Centre. Dalam wawancara singkat yang dilakukan melalui sambungan telepon, pihak manajemen tidak memberikan tanggapan dan enggan menjawab sejumlah pertanyaan krusial terkait pengawasan internal pelabuhan.
Petugas Plabuhan Batam center Inisial D mengatakan,Sejak pergantian pengelola plabuhan yang sekarang,kami sudah lama khawatir soal akses keluar masuk pelabuhan yang terlalu longgar. Tapi sayangnya, pengelola justru memberi akses terlalu luas, bahkan kepada pihak-pihak yang seharusnya tidak punya otoritas di area terbatas,” ujarnya saat ditemui dikantornya lantai tiga oleh tim redaksi, senin (7/7/2025).
DS meminta identitasnya tidak dipublikasikan, namun ia menyayangkan kelonggaran yang terjadi di lingkungan kerja mereka.
“Seharusnya hanya pengelola resmi yang bisa keluar masuk zona kritis pelabuhan. Tapi faktanya, banyak yang bisa lalu-lalang tanpa pengawasan. Ini jadi celah yang dimanfaatkan oleh jaringan seperti ini,” ungkapnya
Praktisi hukum Kota Batam yang juga penasihat Solidaritas Wartawan Batam (SWB), Jacobus Silaban,S.H, menilai ada indikasi keterlibatan korporasi dalam kasus ini. “Penyidik Polda Kepri harus mendalami hingga ke akar. Ini bukan cuma soal kurir. Tapi soal sistem pengawasan yang mungkin sudah dibobol dari dalam,” ujar Jacobus.
Ia menyebut, keterlibatan otoritas pelabuhan, KSOP, bahkan BP Batam selaku pengelola kawasan, perlu menjadi fokus penyelidikan. “Kalau pelabuhan resmi bisa meloloskan ribuan botol narkotika, berarti sistem kita bocor. Bisa jadi ada korporasi yang dijadikan tameng,” kata dia.
Menurut Jacobus, ini alarm serius. Ia menyerukan audit menyeluruh atas prosedur perizinan dan arus barang di Pelabuhan Batam Centre. Pihak berwenang, kata dia, tak cukup berhenti pada penangkapan individu. “Penyisiran harus dilakukan menyeluruh—dari pengelola kapal, petugas KSOP, hingga korporasi yang terlibat. Jangan ada yang luput.”
Pengawasan Jalur Penumpang Harus Dirombak
Skema masuknya koper narkotika melalui kapal penumpang memperlihatkan betapa lemahnya sistem kontrol non-kargo. Pemeriksaan X-ray hanya dilakukan secara terbatas, dan jalur keluar terminal bisa dimanipulasi oleh oknum.
Jacobus juga menilai bahwa manajemen pelabuhan dan otoritas pelayaran wajib bertanggung jawab atas kelemahan sistemik ini.
Editor Iwan Fajar















