
Oleh Cak Ta’in Komari SS
WBN — Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Provinsi Kepulauan Riau mendadak menjadi panggung politik paling menarik untuk disimak tahun ini. Agenda yang seharusnya digelar Minggu, 19 November 2025 di Hotel Aston Tanjungpinang itu tiba-tiba ditunda tanpa penjelasan detail. Penundaan ini justru melahirkan berbagai tafsir dan spekulasi, terutama menyangkut perebutan kursi Ketua DPD Golkar Kepri.
Nama-nama yang sempat beredar pun tak main-main: Roby Kurniawan (Bupati Bintan), Ade Angga (Wakil Ketua DPRD Tanjungpinang), dan Riski Faisal (Anggota DPR RI).
Ujian Dinasti Politik Ansar Ahmad
Secara politis, Musda kali ini adalah ujian paling berat bagi Ansar Ahmad—mantan Ketua Golkar Kepri yang kini dua periode menjabat sebagai Gubernur Kepri—untuk menjaga napas dinasti politiknya.
Roby Kurniawan yang disebut-sebut sebagai putra mahkota mendadak hilang dari bursa setelah mencuatnya isu soal video seorang selebgram Bandung yang dikaitkan dengannya.
Sementara calon lain, Ade Angga, justru harus menjalani pemeriksaan Penyidik Ditkrimsus Polda Kepri hanya dua hari sebelum jadwal Musda.
Anehnya, meskipun ada tujuh pihak diperiksa, seluruh pemberitaan hanya diarahkan pada Ade.
Pertanyaannya, mengapa framing publik diarahkan seolah Ade adalah satu-satunya figur yang dianggap bermasalah? Apakah ini kebetulan? Atau ada agenda politik yang lebih besar?
Satu lagi yang patut dikritisi: apakah sudah sesuai SOP penyidikan ketika memeriksa unsur pimpinan DPRD tanpa prosedur izin gubernur? Sebab aturan formal yang berlaku masih demikian—kecuali jika diam-diam sudah ada regulasi baru.
Pertarungan Sesungguhnya: Ansar vs Riski
Pada titik tertentu, Musda ini bukan sekadar memilih ketua partai. Ini adalah pertarungan penentuan masa depan politik Kepri.
Ansar tak mungkin lagi maju Pilkada 2029 karena keterbatasan masa jabatan. Pilihan realistisnya adalah kembali ke DPR RI. Sementara Roby, juga limit dua periode sebagai Bupati Bintan.
Dengan segala kalkulasi, strategi dinasti Ansar bisa bergerak ke tiga arah: Roby ke Pilgub Kepri
Dewi Kumalasari sebagai Cagub/Cawagub,Ansar kembali ke pusat.
Di sisi lain, Riski Faisal jelas berada dalam ancaman politik langsung. Basis politik Ansar masih dominan di empat kabupaten utama. Riski praktis baru menguasai Batam & Tanjungpinang.
Namun peta bisa bergeser jika isu moral Roby dan isu korupsi Ade sukses menggembosi dukungan.Tapi jika tidak? Maka dominasi Ansar bisa kembali tak terbendung.
Skenario Alternatif: Figur Netral?
Jika situasi makin keruh, Ansar bisa mencari figur kompromi. Nama Taba Iskandar misalnya. Ia senior, berpengalaman, matang, dan sangat dihormati di internal Golkar Kepri.
Taba pernah menangi perebutan kursi Ketua DPRD Batam di tahun 2000 ketika peluangnya nyaris nihil. Jika Taba memimpin, Golkar Kepri berpeluang kembali ke masa kejayaan 1999–2009.
Figur netral namun kompeten—itulah alternatif yang mungkin sedang disiapkan.
Penentu Masa Depan Politik Kepri.
Sejak Pilkada 2006, Kepri selalu dipimpin figur yang punya akar kuat di Golkar—walaupun tak selalu lewat kendaraan Golkar. Bahkan kemenangan Sani–Soerya pada 2010 masih terkait patronase Golkar.
Karena itu, Musda ini bukan sekadar memilih ketua. Musda ini adalah:
penentu kontur politik Kepri 5 hingga 10 tahun ke depan.
Jika berlangsung fair, terbuka, kompetitif—Golkar Kepri bisa kembali ke era emas.
Jika tidak, maka konflik internal hanya akan melahirkan kekalahan bersama di 2029.
Pada akhirnya…
Musda Golkar Kepri adalah ujian besar:
Ujian soliditas internal
Ujian loyalitas kader
Ujian ketegasan organisasi
Ujian kelanggengan dinasti AnsarDan sekaligus ujian survival politik Riski Faisal
Pertanyaannya kini hanya tinggal satu:
Siapa yang akan memenangkan Musda Golkar Kepri?
Dan apa harga yang harus dibayar untuk itu?














