Emas: Potensi Lonjakan Harga Tak Terbendung Menuju Puncak Baru di 2026
Pasar komoditas global tengah menyaksikan fenomena menarik di penghujung tahun 2025, yaitu lonjakan harga emas yang terus melambung. Aset safe haven ini telah menarik perhatian investor dan analis, seiring dengan pergerakan harga yang menunjukkan tren kenaikan signifikan di pasar spot.
Menurut analisis Ibrahim Assuaibi, seorang analis emas terkemuka, harga emas dunia sempat menyentuh level impresif sebesar 4.512 dolar Amerika Serikat (AS) per troy ounce (toz). Data dari GoldPrice mengonfirmasi tren ini, mencatat harga emas dunia menyentuh 4.492,81 dolar AS per toz, yang menandakan kenaikan sebesar 14,85 poin atau 0,33 persen dalam periode tertentu.
Proyeksi para ahli menunjukkan bahwa tren kenaikan ini tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Ibrahim Assuaibi optimis bahwa lonjakan harga emas dunia akan berlanjut hingga tahun 2026, membuka peluang keuntungan yang lebih besar bagi para pemegang aset ini.
Prediksi Kenaikan Signifikan: Emas Siap Mencapai Rekor Baru
Analisis Ibrahim Assuaibi memberikan gambaran yang cukup meyakinkan mengenai prospek harga emas di masa depan. Ia memprediksi bahwa harga emas dunia berpotensi menembus rekor tertinggi baru, bahkan mencapai angka 5.500 dolar AS per toz pada tahun 2026. Angka ini, jika terealisasi, akan menunjukkan kenaikan yang luar biasa, yaitu sekitar 21,9 persen dibandingkan dengan harga tertinggi yang dicapai pada tahun 2025.
“Seandainya terkoreksi, kemungkinan besar hanya di 4.150 dolar AS per toz,” ujar Ibrahim, memberikan gambaran skenario terburuk yang masih relatif menguntungkan. “Jadi tahun 2026, kalau dirata-ratakan, harga emas dunia itu adalah di 4.825 dolar AS per toz,” tambahnya, memberikan estimasi harga rata-rata yang tetap menunjukkan pertumbuhan yang solid.
Faktor eksternal yang krusial dalam menentukan harga emas di pasar domestik, yaitu nilai tukar mata uang, juga menjadi perhatian. Ibrahim memprediksi bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bisa mengalami pelemahan yang signifikan, menyentuh kisaran Rp16.400 hingga Rp17.500 per dolar AS. Pelemahan rupiah ini secara otomatis akan berdampak pada kenaikan harga emas di Indonesia.
“Kenapa sampai melebar di Rp17.500? Karena kondisi ekonomi global yang tidak baik-baik saja, yang berpengaruh terhadap apa? Terhadap pelemahan mata uang rupiah,” jelas Ibrahim, menggarisbawahi korelasi antara ketidakstabilan ekonomi global dan depresiasi mata uang lokal.
Faktor Pemicu Lonjakan: Belanja Besar Bank Sentral dan Ketegangan Geopolitik

Lonjakan harga emas yang diprediksi akan terjadi pada tahun 2026 tidak lepas dari beberapa faktor pemicu utama. Salah satu isu paling signifikan yang diperkirakan akan mendorong kenaikan harga adalah potensi pembelian aset logam mulia secara besar-besaran oleh bank-bank sentral di seluruh dunia. Historisnya, bank sentral sering kali meningkatkan cadangan emas mereka di saat ketidakpastian ekonomi global, menjadikan emas sebagai aset yang aman.
Selain itu, beberapa isu global lainnya juga diprediksi akan turut berperan dalam mengerek harga emas:
- Perang Dagang yang Berlanjut: Ketegangan perdagangan antarnegara yang belum terselesaikan dapat menciptakan ketidakpastian ekonomi dan mendorong investor untuk mencari aset yang lebih aman seperti emas.
- Kondisi Geopolitik yang Belum Mereda: Ketidakstabilan politik dan konflik di berbagai belahan dunia dapat meningkatkan sentimen risiko, sehingga permintaan terhadap emas sebagai safe haven pun meningkat.
- Kebijakan Bank Sentral yang Agresif: Jika bank sentral global mengambil kebijakan moneter yang lebih agresif, seperti penurunan suku bunga secara signifikan atau program pembelian aset yang masif, hal ini dapat melemahkan mata uang dan mendorong kenaikan harga komoditas, termasuk emas.
“Kita tahu bahwa supply dan demand kemungkinan besar di tahun 2026, bank sentral global ini akan kembali melakukan pembelian terhadap logam mulia, dan logam mulia terbatas,” kata Ibrahim, menekankan bahwa keterbatasan pasokan emas akan berhadapan dengan peningkatan permintaan dari institusi besar.
Emas Antam: Menuju Rp3,8 Juta per Gram di Tengah Pelemahan Rupiah

Dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak hanya akan dirasakan pada harga emas dunia, tetapi juga pada harga emas domestik, termasuk emas batangan yang diproduksi oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Dengan asumsi kurs rupiah yang melemah hingga level Rp17.500 per dolar AS pada tahun 2026, Ibrahim memproyeksikan harga emas Antam bisa melonjak drastis hingga mencapai Rp3,8 juta per gram.
“Kemudian untuk logam mulia di tahun 2026 itu di Rp3,8 juta ya. Untuk rupiah kemungkinan besar akan menuju level Rp17.500,” ujar Ibrahim, memberikan prediksi harga yang sangat menarik bagi para investor emas di Indonesia.
Perlu dicatat bahwa prediksi ini didasarkan pada proyeksi kondisi ekonomi global dan kebijakan moneter yang mungkin terjadi. Investor disarankan untuk terus memantau perkembangan pasar dan melakukan riset mendalam sebelum mengambil keputusan investasi. Namun, tren yang ada saat ini menunjukkan bahwa emas memiliki potensi besar untuk terus mencetak rekor harga di masa mendatang.

















Discussion about this post