Sungai Pacit Mengamuk, Cirebon Dilanda Banjir di Hari Natal
Momen Hari Natal yang seharusnya diwarnai suka cita dan ketenangan mendadak berubah menjadi kekhawatiran di Kota Cirebon. Pada Kamis (25/12/2025) petang, aliran Sungai Pacit menunjukkan amukannya yang tak terduga. Air yang tadinya mengalir normal, mendadak berubah menjadi cokelat pekat dan meluap deras, nyaris menyentuh dasar jembatan, serta merendam kawasan di sekitarnya.
Kejadian dramatis ini terekam oleh kamera amatir warga dan dengan cepat menyebar luas di berbagai platform media sosial. Dalam sebuah video berdurasi sekitar 37 detik, terlihat jelas arus sungai mengalir dengan kecepatan tinggi di wilayah Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, tepatnya di area sekitar eks kolam renang Basyifa. Sang perekam video bahkan terdengar memberikan peringatan dini kepada warga yang bermukim di wilayah hilir. Ia mengingatkan tentang potensi kiriman air dari bagian hulu yang terus meningkat, seiring dengan hujan yang belum sepenuhnya reda di wilayah tersebut.
Kondisi air sungai yang keruh kecokelatan dengan arus yang sangat deras digambarkan dengan jelas dalam rekaman tersebut. Ketinggian air dilaporkan hampir menyentuh bagian bawah jembatan, bahkan pagar pembatas besi yang berada di atasnya terlihat nyaris terendam luapan air. Pemandangan yang tak biasa ini diperparah dengan keberadaan beberapa pohon besar dan tanaman pisang yang berdiri kokoh di tengah genangan air, memberikan gambaran betapa luasnya area yang terdampak luapan kali ini. Langit yang mendung disertai gerimis menambah suasana mencekam di lokasi kejadian. Warga yang kebetulan melintas di sekitar jembatan memilih untuk berhenti sejenak, memantau dengan cemas debit air yang terus bergerak cepat di bawah mereka.
Banjir Susulan Melanda Penyuken
Dampak luapan Sungai Pacit tidak hanya dirasakan di Kelurahan Kalijaga. Kawasan Penyuken, yang juga merupakan bagian dari Kota Cirebon, kembali terendam banjir. Situasi ini sangat mirip dengan banjir yang terjadi hanya dua hari sebelumnya, pada tanggal 23 Desember 2025. Dugaan kuat menyebutkan bahwa banjir di wilayah Penyuken ini juga disebabkan oleh meluapnya Sungai Pacit, mengingat aliran sungai tersebut memang melintasi kawasan ini.
Respons Cepat BPBD dan Tim Gabungan
Menyikapi peristiwa banjir yang melanda sejumlah titik di Kota Cirebon pada Kamis petang tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cirebon langsung bergerak cepat mengerahkan personelnya untuk penanganan. Kepala Pelaksana BPBD Kota Cirebon, Andi Wibowo, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyiagakan 45 personel internal. Kekuatan ini diperkuat oleh kehadiran relawan, organisasi kemasyarakatan, serta unsur Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).
“Total personel gabungan yang sudah berada di lapangan sekitar 60 orang dan berpotensi bertambah hingga 150 relawan,” ujar Andi pada Kamis (25/12/2025).
Ia merinci bahwa banjir terjadi di dua titik yang sama seperti kejadian sebelumnya, yaitu di Kelurahan Kalijaga dan kawasan Penyuken. Dampak genangan air di kedua area tersebut dilaporkan cukup signifikan. Pada puncak kejadian, ketinggian air bahkan dilaporkan mencapai sekitar 60 hingga 70 sentimeter.
Meskipun demikian, Andi memastikan bahwa kondisi di lapangan berangsur-angsur kondusif. Seiring dengan menurunnya intensitas hujan, genangan air mulai menunjukkan tanda-tanda surut.
“Banjir sekarang sudah berangsur surut dan mudah-mudahan segera normal kembali,” ucapnya penuh harap.
Penyebab dan Durasi Banjir
Menurut penjelasan Andi, banjir kali ini dipicu oleh intensitas curah hujan yang sangat tinggi. Kondisi ini menyebabkan kapasitas Sungai Pacit tidak mampu lagi menampung debit air yang masuk, sehingga terjadilah luapan yang kemudian mengalir ke permukiman warga dan menggenangi sejumlah ruas jalan.
Ia menambahkan, durasi genangan banjir di Kota Cirebon kali ini relatif singkat, serupa dengan dua kejadian sebelumnya.
“Durasi genangan sekitar dua sampai tiga jam, maksimal tiga jam,” jelasnya.
Upaya Penanganan Jangka Panjang dan Koordinasi Lintas Wilayah
Pemerintah daerah, bersama dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung, juga telah melakukan pemantauan langsung ke lokasi-lokasi banjir. Hasil dari pemantauan ini nantinya akan menjadi dasar penting dalam penyusunan skema penanganan banjir yang lebih komprehensif dan efektif untuk menekan dampak serupa di masa mendatang.
Selain itu, BPBD Kota Cirebon juga secara aktif mendorong adanya koordinasi lintas wilayah yang melibatkan tiga daerah: Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, dan Kabupaten Kuningan. Fokus utama dari koordinasi ini adalah pada pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) secara terpadu. Diharapkan, dengan pengelolaan DAS yang lebih baik, potensi terjadinya banjir berulang dapat diminimalisir.
“Kalau daerah aliran sungai kita jaga bersama, minimal dampak banjir bisa kita tekan,” tegasnya, menekankan pentingnya sinergi antar daerah dalam menjaga kelestarian lingkungan sungai.

















Discussion about this post