Iran Mengaku Hadapi “Perang Skala Penuh” dari AS, Israel, dan Eropa, Ancaman Balasan Mematikan
TEHERAN – Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, melontarkan pernyataan keras bahwa negaranya tengah menghadapi “perang skala penuh” yang dilancarkan oleh Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara Eropa. Ia menegaskan bahwa jika agresi ini terus berlanjut, Iran akan memberikan balasan yang mematikan.
“Menurut pandangan saya, kita berada dalam perang skala penuh dengan Amerika, Israel, dan Eropa. Mereka tidak menginginkan negara kita berdiri teguh sendirian,” ujar Pezeshkian dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan di situs resmi Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada hari Sabtu. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, menjelang pertemuan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan Presiden AS Donald Trump pada hari Senin.
Situasi ini juga terjadi beberapa bulan setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran, serta menyusul keputusan Prancis, Jerman, dan Inggris untuk memberlakukan kembali sanksi PBB terhadap Teheran pada bulan September terkait program nuklirnya.
Presiden Pezeshkian menambahkan, pasukan militer Iran siap menghadapi ancaman tersebut. “Pasukan militer kita menjalankan tugasnya dengan penuh kekuatan, dan saat ini, baik dari segi peralatan maupun personel, terlepas dari semua tantangan yang kita hadapi, mereka lebih kuat dibandingkan saat Israel dan AS menyerang,” katanya. Ia menekankan, “Jadi, jika mereka ingin menyerang, tentu saja mereka akan menghadapi respons yang lebih tegas.”
Perang yang Berbeda dan Lebih Kompleks
Lebih lanjut, Pezeshkian membandingkan situasi saat ini dengan perang Iran-Irak pada tahun 1980-1988. Ia menyatakan bahwa konflik yang sedang dihadapi Iran saat ini jauh lebih buruk dan kompleks. “Perang ini lebih buruk daripada perang Irak melawan kita. Jika kita memahaminya dengan baik, perang ini jauh lebih kompleks dan sulit dibandingkan perang itu,” kata Pezeshkian, merujuk pada konflik berdarah yang menewaskan ribuan orang antara kedua negara tetangga tersebut.

Petugas penyelamat dan pasukan keamanan bekerja di lokasi serangan rudal langsung yang diluncurkan dari Iran di Tel Aviv, Israel, pada Ahad, 22 Juni 2025. – (AP Photo/Oded Balilty)
Amerika Serikat dan sekutunya secara konsisten menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir, sebuah klaim yang selalu dibantah oleh Teheran. Ketegangan antara Israel dan Iran memuncak dalam perang 12 hari pada bulan Juni, yang dipicu oleh serangan Israel yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap fasilitas militer dan nuklir Iran, serta wilayah sipil.
Menurut otoritas Iran, serangan tersebut mengakibatkan lebih dari seribu korban jiwa. Amerika Serikat kemudian menyatakan dukungannya dan bergabung dalam operasi Israel dengan mengebom tiga situs nuklir Iran. Keterlibatan Washington ini secara signifikan menghentikan perundingan yang sebelumnya telah dimulai pada bulan April mengenai program nuklir Iran.
Kebijakan “Tekanan Maksimum” AS Dihidupkan Kembali
Sejak kembali ke Gedung Putih pada bulan Januari, Presiden AS Donald Trump telah mengaktifkan kembali kebijakan “tekanan maksimum” terhadap Iran, yang pertama kali diterapkan pada masa jabatannya sebelumnya. Kebijakan ini mencakup penerapan sanksi tambahan yang dirancang untuk melumpuhkan ekonomi Iran dan mengeringkan sumber pendapatan negara dari penjualan minyak di pasar global.
Laporan-laporan terbaru mengindikasikan bahwa kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke resor Mar-a-Lago, Florida, akhir pekan ini akan menjadi momentum untuk mendorong tindakan militer lebih lanjut terhadap Iran. Kali ini, fokusnya diperkirakan akan lebih diarahkan pada program rudal balistik Teheran.

















Discussion about this post