Akhir Sebuah Era: Koridor 6 Batik Solo Trans Berhenti Operasi, Nasib Sopir Terancam
Kota Solo akan segera menandai berakhirnya sebuah layanan transportasi publik yang telah melayani masyarakat. Mulai 31 Desember 2025, Koridor 6 Batik Solo Trans (BST) secara resmi menghentikan operasionalnya. Namun, dampak dari keputusan ini jauh melampaui sekadar terhentinya rute bus. Kepastian hidup para pekerja yang menggantungkan nafkah di balik kemudi kini berada di ujung tanduk.
Potensi Pengangguran Massal di Balik Kemudi
Salah satu dampak paling nyata dari penghentian Koridor 6 adalah ancaman pemangkasan pegawai. Kalam Jaya, seorang sopir BST yang telah bertahun-tahun mengabdi, kini harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk: kehilangan pekerjaan. Keputusan ini tidak hanya memengaruhi rute bus yang melayani hingga Solo Baru, tetapi juga secara langsung menyentuh kehidupan para kru.
Kalam dan rekan-rekannya sudah menyadari sejak awal bahwa penghentian koridor ini akan berujung pada pengurangan tenaga kerja. “Pindah ke koridor yang lain. Tapi terpaksa, teman-teman yang dirumahkan juga ada,” tuturnya dengan nada prihatin. Tidak semua pegawai bernasib sama. Sebagian memang beruntung dapat dipindahkan ke koridor lain, namun sebagian lainnya harus menerima kenyataan pahit: dirumahkan tanpa kejelasan nasib.
Kontrak di Ujung Tahun: Ketidakpastian yang Menggantung
Situasi Kalam semakin pelik karena hingga kini, ia belum mendapatkan kejelasan mengenai perpanjangan kontrak kerjanya. Masa baktinya akan berakhir tepat di pengujung tahun 2025, bersamaan dengan dihentikannya operasional Koridor 6. “Belum. Ini kan menghabiskan kontrak sampai akhir tahun,” jelas Kalam. Ketidakpastian ini membuat masa depan para sopir menjadi abu-abu, seiring dengan bus-bus yang kini tak lagi melintas di koridor yang menjadi saksi bisu perjalanan mereka.
Anggaran yang Menjadi Akar Permasalahan
Kepala Dinas Perhubungan Kota Solo, Taufiq Muhammad, sebelumnya telah memberikan penjelasan mengenai alasan utama di balik penghentian Koridor 6, yaitu keterbatasan anggaran. “Koridor 6, ya intinya ini berhenti dulu. Karena kan sisa pagu anggaran BLUD kami hanya bisa membackup Koridor 5,” terang Taufiq. Ia juga mengakui bahwa pihaknya belum dapat memastikan sampai kapan layanan Koridor 6 akan dihentikan.
Menanti Skema Aglomerasi: Harapan Jangka Panjang
Taufiq menyebutkan bahwa pihaknya telah menjajaki kemungkinan cost sharing atau pembagian biaya dengan pemerintah provinsi dan kabupaten sekitar. Namun, skema ini masih membutuhkan waktu dan persiapan yang matang. “Iya, kemarin kami dengan provinsi nanti 2027 siap memfasilitasi untuk aglomerasi, seperti itu. Kayak kemarin provinsi itu harapannya nanti ada cost sharing dengan kabupaten sekitar. Tapi kan perlu persiapan, jadi ya 2027 diimplementasikan terkait cost sharing itu,” ungkap Taufiq. Hal ini berarti, harapan untuk memulihkan layanan transportasi lintas wilayah harus menunggu setidaknya dua tahun lagi.
Anggaran 2026: Prioritas yang Berbeda
Untuk tahun 2026, Dinas Perhubungan Kota Solo telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp23 miliar untuk operasional BST. Namun, dana tersebut tidak mencakup pembiayaan untuk Koridor 6. “Anggaran itu untuk membiayai enam koridor feeder BST lalu tiga koridor BST, yakni Koridor 2, Koridor 3, dan Koridor 4. Untuk Koridor 1 menggunakan APBN,” terang Taufiq. Dengan komposisi anggaran tersebut, Koridor 6 dipastikan tidak masuk dalam prioritas operasional untuk tahun mendatang.
Bus Berhenti, Sopir Menanti: Babak Baru yang Penuh Tanya
Penghentian Koridor 6 bukan sekadar keputusan teknis operasional semata. Bagi para sopir dan kru BST, ini adalah kenyataan pahit yang memaksa mereka untuk menata ulang harapan, mencari peluang pekerjaan baru, atau bersiap menghadapi ketidakpastian finansial. Bagi Kalam dan rekan-rekannya, akhir tahun 2025 bukan hanya penanda pergantian kalender, tetapi juga awal dari sebuah babak baru yang penuh dengan tanda tanya mengenai masa depan mereka.

















Discussion about this post