JAKARTA KOTA – Pakar ekonomi pendiri Institute For Development of Economics and Finance (INDEF), Prof Didin S. Damanhuri menilai program MBG sebagai pendekatan baru dalam ekonomi pembangunan.
Selama ini, negara berkembang termasuk Indonesia cenderung mengadopsi prinsip meningkatkan pertumbuhan setinggi-tingginya (at all cost), bahkan jika harus sedikit mengorbankan pemerataan.
Namun, MBG hadir dengan semangat human resource economics, sebuah pendekatan yang baru menjadi fokus para pakar ekonomi sejak 1992.
Jika MBG bisa konsisten dan jangka panjang akan menggeser pemikiran ekonomi di Indonesia yang lebih berorientasi pada pembangunan sumber daya manusia (SDM).
“Karena (MBG) ini kan agak lain. Biasanya strateginya adalah pertumbuhan ekonomi setinggi-tingginya, maka yang akan dipilih adalah pembangunan infrastruktur besar-besaran. Tapi ini menyangkut seluruh penduduk terutama memperbaiki ketimpangan gizi dan pendidikan,” ujar Prof. Didin saat memberikan tinjauan ekonomi terhadap perjalanan satu tahun MBG.
Intervensi negara melalui gizi dianggap sangat strategis. Jika program ini terkonsolidasi, dampak makronya akan sangat luas.
Kesenjangan antara masyarakat kelas atas dan bawah akan mengecil karena intervensi gizi negara yang menyasar 50% masyarakat kelas bawah.
Perubahan juga terasa nyata di tingkat akar rumput. Di SMAN 1 Taraju, Cibuntu, Tasikmalaya, MBG mengubah pola hidup siswa jadi lebih sehat.
Alfi Alfian, siswa kelas XI, menceritakan bagaimana MBG mengubah kebiasaan makannya.
“Sebelum ada MBG, paling cuma jajan cireng. Sekarang setelah MBG saya tidak perlu bawa bekal dari rumah. Kata mama juga mantap di SMA ada MBG, sangat terbantu,” ungkap Alfian.
Nurhayati, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 1 Taraju, mencatat adanya perubahan perilaku ekonomi dan kedisiplinan siswa sejak kehadiran program ini.
Kebiasaan jajan di saat istirahat berkurang dan pengeluaran Rp12.000 – Rp15.000 per hari para siswanya kini turun.
“Kehadiran siswa juga ada perubahan karena mereka merasa terbantu. Minimal asupan gizi akan berdampak terhadap kesehatan. Dengan gizi yang sehat ada semangat mereka untuk sekolah. Mudah-mudahan seiring berjalannya waktu, dengan adanya perbaikan gizi bisa dilihat efek jangka panjangnya,” jelas Nurhayati.
Selain itu, jauh dari anggapan melemahkan pendidikan, MBG justru menjadi tulang punggung baru di sekolah.
Program ini memberikan insentif tambahan bagi guru-guru honorer yang membantu kelancaran penyaluran makanan, sehingga meningkatkan pendapatan mereka di luar gaji rutin.
Kebijakan MBG yang tetap berjalan selama libur sekolah juga merupakan bukti komitmen negara yang konsisten menghadirkan nutrisi ke anak-anak Indonesia. Ini adalah langkah nyata mencegah stunting dan memperbaiki kualitas gizi secara berkelanjutan.
SPPG dan Ekonomi Lokal
Keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di daerah juga menjadi hal penting yang menggerakkan perekonomian lokal.
Selain berpeluang menciptakan lapangan kerja bagi pegawai dan relawannya, para mitra SPPG juga menyerap produksi bahan pangan lokal dari petani dan peternak di tempat mereka beroperasi.
Mitra SPPG Cibuntu, Tasikmalaya, Tino Rirantino, mengatakan keberadaan SPPG sejauh ini dirasakan, selain oleh penerima manfaat tapi juga oleh pelaku ekonomi seperti pasar, petani, dan yang lainnya.
“Harapannya, kesempatan kerjasama dengan mereka untuk meningkatkan ekonomi daerah. SPPG jadi jembatan yang sangat strategis untuk memfasilitasi mereka. Alhamdulillah sampai saat ini kita bisa memberikan kontribusi yang positif,” ujar Tino.
Prof. Didin juga mengamati persoalan teknis pada program MBG yang muncul selama satu tahun ini telah berhasil diatasi dan dikonsolidasi dengan baik oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Sebuah situasi yang menciptakan optimisme jangka panjang. Bahwa pembangunan di Indonesia ini adalah longitudinal plan, yang bisa memperbaiki Indonesia masuk pada ekonomi berbasis ilmu pengetahuan.
“(Pembangunan) Bukan hanya masyarakat kelas atas saja yang bisa berpartisipasi, tapi nanti seluruh penduduk akan ikut terlibat. Ini dampaknya raksasa,” pungkasnya. (*)

















Discussion about this post