Perdagangan Terakhir Bursa 2025: IHSG Dibuka Melemah di Tengah Aksi Jual Beragam Sektor
Pada hari terakhir sesi perdagangan bursa tahun 2025, tepatnya Selasa (30/12/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tren pelemahan. Data yang dihimpun dari Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui RTI mencatat IHSG memulai perdagangan di angka 8.627,40. Namun, tekanan jual segera mengambil alih, mendorong indeks terkoreksi hingga menyentuh level terendah di 8.584,87.
Pada sesi awal perdagangan, IHSG hanya mampu mencapai level tertingginya di 8.629,44 sebelum kembali tertekan. Hingga pukul 09.14 WIB, indeks tercatat berada di posisi 8.598,40, mencerminkan pelemahan sebesar 45,85 poin atau setara dengan 0,53 persen.
Volume perdagangan menunjukkan aktivitas yang cukup ramai, dengan total 5,50 miliar saham berpindah tangan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp 3,26 triliun, yang didukung oleh frekuensi perdagangan sebanyak 411.930 kali. Dalam dinamika pasar tersebut, sebanyak 285 saham dilaporkan mengalami penurunan, sementara 230 saham berhasil menguat, dan 184 saham lainnya bergerak stagnan.
Dinamika Sektoral: Kombinasi Penguatan dan Tekanan
Pergerakan sektoral di pasar saham menunjukkan gambaran yang bervariasi. Beberapa sektor berhasil bertahan di zona hijau, menawarkan imbal hasil positif bagi investor, sementara sektor lainnya menghadapi tekanan jual yang signifikan.
Sektor-sektor yang menunjukkan penguatan antara lain:
- Infrastruktur: Mencatatkan apresiasi sebesar 1,35 persen.
- Barang Konsumsi Non-Siklikal: Mengalami penguatan 0,54 persen.
- Teknologi: Naik tipis sebesar 0,25 persen.
- Barang Konsumsi Siklikal: Bertambah 0,24 persen.
- Transportasi dan Logistik: Bergerak menguat sebesar 0,12 persen.
Di sisi lain, beberapa sektor harus menghadapi tekanan yang cukup kuat, di antaranya:
- Barang Baku: Menjadi sektor yang paling tertekan, dengan koreksi tajam mencapai 1,73 persen.
- Energi: Mengalami pelemahan sebesar 0,47 persen.
- Perindustrian: Turun 0,37 persen.
- Keuangan: Terkoreksi 0,25 persen.
- Properti: Mengalami penurunan 0,15 persen.
- Kesehatan: Melemah 0,11 persen.
Proyeksi Analis: Potensi Koreksi Lanjutan dan Level Kunci
Menyongsong penutupan perdagangan tahun ini, laju IHSG diperkirakan masih dibayangi oleh potensi koreksi lanjutan. Herditya Wicaksana, seorang analis teknikal dari MNC Sekuritas, memberikan pandangannya mengenai pergerakan indeks.
Menurut Herditya, pergerakan IHSG saat ini diperkirakan masih berada dalam bagian dari wave [iv] dari wave 5 dalam analisis teknikalnya. Hal ini mengindikasikan bahwa indeks masih rentan terhadap koreksi lebih lanjut.
“Kami memperkirakan, saat ini IHSG sedang berada pada bagian dari wave [iv] dari wave 5 pada label hitam, sehingga IHSG masih rawan terkoreksi untuk menguji 8,464-8,493,” ujar Herditya dalam analisa hariannya.
Lebih lanjut, Herditya memaparkan skenario terburuk (worst case) yang perlu diwaspadai oleh para pelaku pasar. Dalam skenario ini, IHSG diperkirakan telah menyelesaikan wave (1) dan berpotensi mengalami koreksi yang lebih dalam, bahkan menembus area psikologis 8.000-an.
“Namun worst case (merah), IHSG sudah menyelesaikan wave (1) dan akan terkoreksi cukup dalam ke area 8,000-an,” paparnya.
Untuk memantau pergerakan indeks, pelaku pasar disarankan untuk memperhatikan beberapa level teknikal kunci.
- Area Support: IHSG memiliki level dukungan penting di kisaran 8.493 dan 8.414.
- Area Resistance: Sementara itu, level resistensi yang perlu diwaspadai berada di area 8.656 dan 8.714.
Perlu dicatat bahwa pada perdagangan sebelumnya, Senin (29/12/2025), IHSG berhasil ditutup dengan penguatan yang signifikan. Indeks melonjak 106,34 poin atau 1,25 persen, mengakhiri sesi di level 8.644,26. Data BEI menunjukkan IHSG memulai perdagangan di level 8.545,72, bergerak konsisten di zona hijau sepanjang hari, dan sempat menyentuh level tertinggi harian di 8.652,18.
Disclaimer: Informasi yang disajikan dalam artikel ini bersifat informatif dan tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual instrumen investasi tertentu. Rekomendasi yang disebutkan berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor. Disarankan untuk melakukan riset mandiri sebelum membuat keputusan investasi.

















Discussion about this post