SD Negeri 2 Wonorejo Bangkit dari Bencana Banjir dengan Desain Inovatif
Demak, Jawa Tengah – Sabtu lalu menjadi hari yang bersejarah bagi SD Negeri 2 Wonorejo di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti secara resmi meresmikan gedung sekolah yang baru saja selesai direvitalisasi. Bangunan sekolah ini sebelumnya mengalami kerusakan parah akibat terjangan banjir yang melanda wilayah tersebut pada awal tahun 2024.
Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Mendikdasmen Abdul Mu’ti, dilanjutkan dengan pemotongan pita yang dilakukan bersama Bupati Demak, Eisti’anah. Acara ini berlangsung di depan bangunan sekolah yang kini tampil beda dengan desain unik berbentuk panggung.
“Alhamdulillah, hari ini kami meresmikan gedung revitalisasi SD Negeri Wonorejo 2. Sekolah ini menarik karena model bangunannya berbentuk panggung, dan ini satu-satunya yang saya kunjungi dengan desain seperti ini,” ungkap Abdul Mu’ti usai peresmian. Ia didampingi oleh Bupati Demak Eisti’anah dan Wakil Bupati Muhammad Badruddin.
Desain Panggung: Solusi Jangka Panjang Atasi Banjir Rob
Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa pemilihan desain panggung bukanlah tanpa alasan. Desain ini merupakan solusi strategis dan jangka panjang untuk mengatasi masalah banjir rob dan genangan air yang kerap melanda kawasan tersebut. Dengan elevasi yang lebih tinggi, bangunan sekolah diharapkan tidak lagi rentan terendam saat banjir datang.
Mendikdasmen juga memberikan apresiasi tinggi terhadap proses revitalisasi yang telah berjalan. Ia menilai program ini dilaksanakan dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas yang kuat.
“Kepala sekolah menyampaikan bahwa pembangunan sudah selesai 100 persen, dan masih ada sisa anggaran yang telah dikembalikan ke kas negara. Ini menunjukkan pelaksanaan program yang sangat baik dan transparan,” tegasnya, menyoroti pengelolaan dana yang baik.
Revitalisasi Skala Nasional dan Dampak Lokal
Program revitalisasi sekolah yang dilakukan secara swakelola di SD Negeri 2 Wonorejo menelan total anggaran sebesar Rp2,229 miliar. Angka ini merupakan bagian dari program revitalisasi sekolah berskala nasional yang direncanakan untuk tahun 2025.
Secara nasional, program ini menargetkan 16.175 satuan pendidikan dengan alokasi anggaran mencapai Rp16,9 triliun. Hingga saat ini, progres penyelesaian program secara keseluruhan telah mencapai sekitar 95 persen, menunjukkan efektivitas pelaksanaan program pemerintah.
Khusus untuk Kabupaten Demak, program revitalisasi sekolah memberikan perhatian signifikan. Terdapat 110 sekolah yang menerima bantuan, mencakup jenjang pendidikan dari PAUD hingga SMA dan SMK, dengan total anggaran yang dialokasikan sebesar Rp77,74 miliar.
Lebih dari sekadar perbaikan fisik sarana pendidikan, program revitalisasi ini juga membawa dampak ekonomi positif bagi masyarakat sekitar. Setiap proyek pembangunan sekolah melibatkan sedikitnya 10 hingga 20 tenaga kerja lokal. Selain itu, pembelian material bangunan yang dilakukan di wilayah setempat turut mendorong perputaran roda ekonomi di daerah tersebut.
Harapan dan Dukungan Berkelanjutan
Pelaksana Tugas Kepala SD Negeri 2 Wonorejo, Saeronzi, mengungkapkan rasa syukurnya yang mendalam atas selesainya revitalisasi sekolahnya. Ia menceritakan bahwa sekolahnya sempat terendam banjir sebanyak dua kali sepanjang tahun 2024, menyebabkan banyak fasilitas rusak dan tidak dapat digunakan.
“Dengan adanya revitalisasi ini, bangunan sekolah menjadi lebih aman dan nyaman. Warga sekitar juga terbantu karena dilibatkan dalam pekerjaan pembangunan,” ujar Saeronzi, menekankan manfaat ganda dari program ini.
Sementara itu, Bupati Demak Eisti’anah menyambut baik dan berharap program revitalisasi sekolah dari pemerintah pusat dapat terus berlanjut. Ia mengakui bahwa keterbatasan anggaran daerah seringkali menjadi kendala dalam upaya perbaikan sekolah yang mengalami kerusakan. Oleh karena itu, dukungan dari pemerintah pusat sangat krusial.
“Tahun 2025 ada 89 titik sekolah SD dan SMP di Demak yang dibantu melalui program revitalisasi pemerintah pusat. Untuk tahun berikutnya, kami juga sudah mengusulkan perbaikan sekolah rusak melalui aplikasi,” ungkap Bupati Eisti’anah, menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mengupayakan perbaikan infrastruktur pendidikan.
Keberhasilan revitalisasi SD Negeri 2 Wonorejo menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat dapat menghasilkan solusi inovatif dalam menghadapi tantangan bencana, sekaligus meningkatkan kualitas fasilitas pendidikan bagi generasi penerus. Desain panggung yang diterapkan diharapkan menjadi pelopor bagi sekolah-sekolah lain di daerah rawan banjir untuk mengadopsi solusi serupa.

















Discussion about this post