CARACAS – Ketegangan geopolitik global mencapai titik didih setelah Amerika Serikat melancarkan operasi militer skala besar ke Venezuela.
Dalam serangan mendadak tersebut, Washington mengklaim telah berhasil menangkap Presiden Nicolas Maduro beserta ibu negara, sebuah langkah berani yang memicu gelombang kecaman internasional dan kekhawatiran akan stabilitas keamanan di kawasan Amerika Latin.
Dikutip dari Al Jazeera, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa operasi tersebut merupakan serangan udara dan darat yang masif.
Langkah sepihak ini langsung direspons oleh berbagai kekuatan dunia yang menilai tindakan tersebut melanggar kedaulatan negara dan hukum internasional.
Reaksi Keras Kekuatan Global
China dan Rusia menjadi garda terdepan dalam mengecam aksi Washington.
Beijing secara resmi menyebut intervensi militer ini sebagai “tindakan hegemonik” yang mengangkangi Piagam PBB. Pemerintah China mendesak AS untuk segera menghentikan penggunaan kekuatan militer demi menjaga perdamaian di Karibia.
Senada dengan China, Rusia menegaskan solidaritas penuh kepada pemerintah Venezuela dan melabeli operasi tersebut sebagai agresi bersenjata yang sah.
Sementara itu, Iran menilai penangkapan Maduro merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hak suatu bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa campur tangan asing.
Suara dari Turki dan Uni Eropa
Kementerian Luar Negeri Turki mengeluarkan pernyataan resmi yang menyerukan semua pihak untuk menahan diri. Ankara menekankan pentingnya keselamatan rakyat Venezuela dan menyatakan kesiapannya untuk memediasi krisis ini sesuai dengan jalur hukum internasional.
Di sisi lain, Uni Eropa melalui kepala kebijakan luar negerinya, Kaja Kallas, menyerukan de-eskalasi segera. Meskipun Presiden Prancis Emmanuel Macron memberikan catatan kritis terhadap kepemimpinan Maduro yang dianggap merusak demokrasi, ia tetap menegaskan bahwa transisi politik di Venezuela harus berjalan secara damai tanpa kekuatan senjata.
Oposisi dari Dalam Negeri AS
Penolakan juga muncul dari dalam Amerika Serikat sendiri. Wali Kota New York, Zohran Mamdani, mengutuk keras operasi tersebut dan menyebutnya sebagai “tindakan perang” demi perubahan rezim secara paksa. Mamdani menegaskan bahwa serangan terhadap negara berdaulat tanpa mandates internasional adalah pelanggaran serius terhadap hukum federal.
Saat ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan potensi krisis kemanusiaan dan dampak regional yang luas. PBB mendesak perlindungan warga sipil sebagai prioritas utama dan mengingatkan bahwa setiap tindakan militer wajib tunduk pada hukum hak asasi manusia internasional.***
Disclaimer: Artikel ini sudah terbit di wartalombok.pikiran-rakyat.com dengan judul: AS Bombardir Venezuela, Penangkapan Presiden Nicolas Maduro Picu Kecaman Dunia

















Discussion about this post