Membuka Pintu Ekspresi: Perjalanan Nila Dianti dari Teater ke Kelas Akting untuk Semua Kalangan
Semarang – Dunia teater, yang seringkali dianggap eksklusif, mulai terbuka lebar berkat inisiatif Nila Dianti, seorang pegiat seni peran asal Semarang. Nila tidak hanya menggeluti dunia teater, tetapi juga secara aktif menjadi pengajar akting dan ekspresi bagi berbagai lapisan masyarakat. Pesertanya pun sangat beragam, mulai dari model profesional, para kreator konten digital, anak-anak usia taman kanak-kanak (TK), hingga penyandang disabilitas yang mungkin belum familiar dengan seni peran.
Awalnya, Nila memulai kiprahnya sebagai pegiat teater di lingkungan kampus. Setelah lulus, ia melanjutkan aktivitasnya di komunitas teater umum. Namun, seiring berjalannya waktu, sebuah pertanyaan mulai menghantui pikirannya: mengapa seni teater kerap dipandang sebagai ranah yang hanya bisa dinikmati atau digeluti oleh kalangan tertentu saja? Pandangan ini mulai berubah ketika Nila melangkah keluar dari lingkarannya sendiri dan berinteraksi dengan industri hiburan lain, seperti dunia perfilman dan modeling.
Dari interaksi tersebut, Nila melihat adanya kebutuhan fundamental akan kemampuan seni peran, khususnya akting dasar yang berakar dari teater. Ternyata, keterampilan ini sangat relevan dan dibutuhkan dalam dunia modeling. Terinspirasi oleh pengamatan ini, Nila memutuskan untuk membuka kelas akting di bawah naungan manajemen Yume Talent and Model Semarang. Ia berargumen bahwa seorang model tidak hanya dituntut untuk piawai bergaya di hadapan kamera atau di atas panggung, tetapi juga harus mampu mengeksplorasi berbagai ekspresi dan emosi untuk menghidupkan karakter atau produk yang dibawakan.
“Sekarang saya mengisi kelas akting untuk model, konten kreator, anak-anak TK, juga penyandang disabilitas,” ujar Nila dalam sebuah perbincangan. Kelas akting yang ia adakan telah menjadi agenda rutin, baik sebagai kelas mandiri maupun terintegrasi dalam program kelas modeling. Selama kurang lebih tujuh bulan terakhir, Nila telah mendedikasikan dirinya untuk mengembangkan kelas ini agar dapat diakses oleh masyarakat luas.
Misi Membangun Kepercayaan Diri dan Ruang Aman Berekspresi
Salah satu misi utama Nila dalam menggelar kelas akting adalah untuk membangun kepercayaan diri. Ia meyakini bahwa kepercayaan diri merupakan modal dasar yang sangat penting bagi siapa saja, terutama bagi mereka yang aktif di media sosial dan berprofesi sebagai kreator konten. Dalam setiap sesi pembelajarannya, Nila kerap menemukan fenomena menarik. Ada murid yang sangat percaya diri saat berhadapan dengan kamera, namun justru terlihat kaku dan canggung ketika harus berinteraksi langsung dengan orang lain di dunia nyata.
“Di kelas akting, mereka dituntut berani menatap mata lawan main. Itu membutuhkan kepercayaan diri yang tinggi,” jelasnya. Melalui metode olah rasa dan latihan regulasi emosi, para peserta diajak untuk mengenali, memahami, dan mengelola perasaan mereka sendiri. Dari proses ini, Nila menyadari bahwa kelas yang ia fasilitasi tidak hanya berfungsi sebagai sarana untuk melatih ekspresi visual, tetapi juga telah berkembang menjadi sebuah ruang aman untuk bersosialisasi dan menata emosi.
Konsep ini kemudian diperluas oleh Nila dengan menciptakan “kelas ekspresi”. Penamaan kelas disesuaikan dengan target audiensnya. Jika sasarannya adalah lembaga pendidikan atau industri film, kelas tersebut tetap disebut sebagai “kelas akting”. Namun, jika ditujukan untuk masyarakat umum, Nila lebih memilih menyebutnya sebagai “kelas ekspresi”, seperti yang ia terapkan dalam kelas liburan atau kelas yang diperuntukkan bagi anak-anak usia TK.
“Anak-anak perlu membangun kepercayaan diri sejak kecil, berani bertanya, bercerita, dan menyampaikan perasaan,” tegasnya. Ke depannya, Nila juga berencana untuk mengembangkan kelas ekspresi sebagai alternatif terapi. Meskipun menggunakan pendekatan olah rasa, Nila tidak memposisikan dirinya sebagai terapis seni. Perannya adalah sebagai fasilitator yang membantu peserta untuk berekspresi dalam sebuah ruang yang aman dan nyaman.
Momen Berkesan dan Harapan untuk Masa Depan
Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Nila datang ketika ia memberikan kelas akting privat kepada seorang perempuan yang berprofesi sebagai model asal Surabaya, Jawa Timur. Momen tersebut terjadi saat sesi olah rasa dimulai. Nila hanya memberikan instruksi sederhana kepada muridnya untuk mengatakan sesuatu kepada sosok yang ia bayangkan sebagai ayahnya.
“Dia bilang sudah lama tidak menangis seperti itu dan berterima kasih karena akhirnya bisa meluapkan perasaan,” tutur Nila, mengenang momen tersebut. Harapan Nila sangat sederhana: ia ingin menciptakan ruang aman bagi siapa pun yang ingin berekspresi. Menurutnya, kemampuan berekspresi yang baik akan sangat membantu seseorang dalam menempatkan diri di berbagai konteks sosial maupun profesional.
“Pada akhirnya, seni peran itu tidak hanya untuk mencetak aktor. Seni peran adalah keterampilan hidup yang bisa dimiliki siapa saja dengan segala tujuan, bahkan orang yang berkecimpung di dunia politik sekalipun,” pungkasnya, menegaskan bahwa seni peran memiliki manfaat universal yang melampaui batas profesi seni itu sendiri.
















Discussion about this post