Ringkasan Berita:
- Warga korban banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang terpaksa patungan menyewa alat berat untuk membersihkan lumpur yang masih menimbun kawasan permukiman mereka.
- Langkah ini diambil karena hingga lebih dari sebulan pascabanjir, tidak satu pun alat berat pemerintah diarahkan ke lingkungan tempat tinggal warga.
- Sebelumnya, warga berharap adanya bantuan alat berat dari pemerintah, mengingat di sejumlah wilayah lain alat berat telah dikerahkan.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang
, KUALASIMPANG – Warga korban banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang terpaksa patungan menyewa alat berat untuk membersihkan lumpur yang masih menimbun kawasan permukiman mereka.
Langkah ini diambil karena hingga lebih dari sebulan pascabanjir, tidak satu pun alat berat pemerintah diarahkan ke lingkungan tempat tinggal warga.
Salah seorang warga Perumahan BTN Satelit Graha, Kecamatan Karangbaru, Zahlul, mengatakan warga sudah berupaya membersihkan lumpur secara gotong royong.
Namun, tenaga manusia dinilai tidak mampu mengimbangi volume lumpur yang sangat besar.
“Kami bersihkan sendiri, gotong royong. Tapi tenaga manusia tidak sebanding dengan tumpukan lumpur yang sangat banyak,” kata Zahlul, Minggu (4/1/2026).
Ia mengungkapkan, sebagian warga mulai putus asa karena tumpukan lumpur seolah tidak pernah berkurang meski dibersihkan setiap hari.
Kondisi tersebut membuat akses jalan di lingkungan permukiman tetap berlumpur dan menyulitkan warga untuk kembali ke rumah.
“Setiap habis dibersihkan, ada lagi warga yang membersihkan lumpur di dalam rumah. Akhirnya jalanan tetap berlumpur,” ujarnya.
Sebelumnya, warga berharap adanya bantuan alat berat dari pemerintah, mengingat di sejumlah wilayah lain alat berat telah dikerahkan.
Bahkan, beberapa warga yang memiliki akses ke instansi pemerintah telah menyampaikan langsung kondisi permukiman mereka agar segera mendapat penanganan.
Namun, hingga lebih dari sebulan berlalu, bantuan tersebut belum juga tiba.
Sementara itu, warga dituntut untuk kembali menjalani aktivitas normal, termasuk para pelajar yang harus kembali masuk sekolah pada 5 Desember lalu.
Di tengah ketidakpastian tersebut, warga akhirnya berinisiatif mengumpulkan dana secara swadaya untuk menyewa alat berat.
Ironisnya, biaya sewa yang ditawarkan pemilik alat berat tergolong mahal.
“Kalau paket bersih satu lorong harganya bisa mencapai 40 juta rupiah,” kata Zahlul dengan nada lesu.
Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan memberikan bantuan alat berat agar proses pemulihan pascabanjir dapat berjalan lebih cepat dan beban masyarakat tidak semakin berat.

















Discussion about this post