Proses seleksi calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) memasuki tahap krusial dengan dilaksanakannya uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test oleh Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Jadwal pelaksanaan telah ditetapkan, menyisakan waktu bagi ketiga kandidat untuk mempersiapkan diri menghadapi penilaian mendalam dari para legislator.
Agenda Uji Kelayakan dan Kepatutan
Komisi XI DPR telah merampungkan penjadwalan uji kelayakan dan kepatutan bagi tiga calon Deputi Gubernur Bank Indonesia. Agenda ini dirancang untuk berlangsung dalam dua hari terpisah guna memberikan alokasi waktu yang optimal bagi setiap kandidat.
-
Hari Pertama: Jumat, 23 Januari 2026
- Sesi pertama akan diisi oleh Solihin M. Juhro.
- Uji kelayakan dijadwalkan berlangsung pada pagi hari, dimulai pukul 09.00 hingga 10.00 WIB.
-
Hari Kedua: Senin, 26 Januari 2026
- Dicky Kartikoyono dijadwalkan untuk menjalani pengujian pada pukul 14.00 hingga 15.00 WIB.
- Sesi terakhir akan diisi oleh Thomas Djiwandono, yang merupakan salah satu kandidat yang paling disorot publik.
- Thomas Djiwandono dijadwalkan memaparkan visi dan misinya pada pukul 16.00 hingga 17.00 WIB.
Setiap kandidat akan diberikan alokasi waktu total selama 60 menit. Waktu tersebut terbagi menjadi beberapa segmen krusial: 25 menit untuk pemaparan visi dan misi, 15 menit untuk sesi pendalaman yang mencakup pertanyaan dari anggota dewan, dan 20 menit terakhir untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Ketua Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun, menegaskan bahwa seluruh proses fit and proper test ini akan berjalan secara terbuka.
Penentuan Nasib Kandidat
Keputusan akhir mengenai nasib ketiga calon Deputi Gubernur BI ini akan diambil segera setelah seluruh rangkaian uji kelayakan selesai dilaksanakan. Rapat internal Komisi XI DPR RI dijadwalkan untuk memutuskan hasil fit and proper test pada hari yang sama dengan sesi terakhir, yaitu Senin, 26 Januari 2026, pukul 18.30 WIB.
Tiga Nama Kandidat Pengganti Juda Agung
Proses seleksi ini bermula dari penerimaan tiga nama calon Deputi Gubernur BI oleh DPR melalui surat presiden (Surpres). Surat yang dikirimkan oleh Presiden Prabowo Subianto tersebut berisi rekomendasi untuk mengisi posisi yang ditinggalkan oleh Juda Agung yang mengundurkan diri sebagai Deputi Gubernur BI.
Ketiga nama yang diajukan adalah:
- Thomas Djiwandono: Keponakan Presiden Prabowo Subianto, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan. Pria yang akrab disapa Tommy ini menjadi salah satu figur yang paling mendapat perhatian publik dalam proses seleksi ini.
- Dicky Kartikoyono: Pejabat internal Bank Indonesia yang saat ini menjabat sebagai Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI.
- Solihin M. Juhro: Pejabat internal Bank Indonesia lainnya, yang menjabat sebagai Asisten Gubernur sekaligus Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI.
Kualifikasi dan Kompetensi Thomas Djiwandono
Munculnya nama Thomas Djiwandono dalam daftar calon Deputi Gubernur BI tidak luput dari perhatian publik, terutama mengingat hubungan kekerabatannya dengan Presiden. Namun, anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Partai Golkar, Mukhamad Misbakhun, menekankan bahwa hubungan kekerabatan tersebut seharusnya tidak menjadi penghalang atau alasan untuk meragukan independensi bank sentral. Ia meminta agar isu tersebut tidak dimanfaatkan untuk menyerang kompetensi para kandidat.
Misbakhun berpendapat bahwa isu hubungan kekerabatan tidak seharusnya dijadikan alat untuk mendegradasi kemampuan individu. Ia secara tegas menyatakan bahwa Thomas Djiwandono memiliki kualifikasi yang memadai untuk menduduki posisi penting di bank sentral. Rekam jejak Thomas yang gemilang, termasuk pengalamannya sebagai Wakil Menteri Keuangan sejak tahun 2024, latar belakang pendidikannya yang kuat, serta pengalamannya di sektor riil, menjadi bukti kompetensi yang tidak dapat diabaikan.
Secara pribadi, Misbakhun memberikan sinyal positif terhadap figur Thomas Djiwandono. Ia menggambarkan Thomas sebagai sosok yang memiliki kemampuan akademik dan birokrasi yang solid, serta kepribadian yang rendah hati (humble). Kualifikasi ini, menurut Misbakhun, menjadikan Thomas sebagai figur yang pantas untuk dipertimbangkan.
Lebih lanjut, Misbakhun juga menyinggung histori keluarga Thomas Djiwandono. Ayah Thomas, Soedradjad Djiwandono, memiliki rekam jejak yang signifikan di dunia perbankan sentral, pernah menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia pada era Presiden Soeharto. Pengalaman keluarga dalam pengelolaan bank sentral ini dapat menjadi salah satu pertimbangan tambahan dalam menilai kelayakan Thomas.
Misbakhun menegaskan kembali pandangannya, “Kalau saya menilai secara kemampuan, Pak Tommy Djiwandono adalah seorang yang mempunyai kemampuan dalam sisi akademik, dari sisi pengalaman dan birokrasi beliau juga ada. Menurut saya, [beliau] figur yang juga pantas untuk menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia.” Pernyataan ini menunjukkan keyakinan Misbakhun terhadap kapasitas Thomas untuk mengemban tugas sebagai Deputi Gubernur BI, terlepas dari isu kekerabatan yang mungkin muncul.
Pentingnya Independensi Bank Sentral
Proses fit and proper test ini tidak hanya menguji kualifikasi teknis dan manajerial para kandidat, tetapi juga menjadi ajang untuk memastikan bahwa calon Deputi Gubernur BI memiliki integritas dan komitmen yang kuat terhadap independensi bank sentral. Independensi BI sangat krusial dalam menjaga stabilitas ekonomi makro, mengendalikan inflasi, dan memastikan sistem keuangan yang sehat.
Para anggota Komisi XI DPR akan menggali lebih dalam mengenai pemahaman para kandidat terhadap tantangan ekonomi terkini, kebijakan moneter, serta peran BI dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional. Kemampuan untuk berpikir strategis, mengambil keputusan yang tepat di tengah ketidakpastian, serta menjaga profesionalisme akan menjadi poin-poin penting yang dinilai.
Dengan demikian, uji kelayakan dan kepatutan ini merupakan mekanisme penting dalam memastikan bahwa Bank Indonesia akan dipimpin oleh individu-individu yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki integritas dan dedikasi untuk menjalankan mandatnya demi kepentingan bangsa dan negara.

















Discussion about this post