, SEMARANG– Di tengah simpang-siur regulasi transportasi umum dan ketatnya persaingan mencari nafkah di perkotaan, suara mesin bajaj kembali terdengar di jalanan Kota Semarang.
Kendaraan roda tiga yang dulu identik dengan Ibu Kota itu kini hadir dengan wajah baru yaitu bajaj online.
Namun sorotan publik bukan lagi soal bentuk atau asal kendaraan tersebut.
Yang ramai dibicarakan justru satu hal, apakah menarik bajaj online benar-benar menjanjikan penghasilan?
Isu itu pula yang mendorong Tribun Jateng turun langsung ke lapangan.
Menyusuri padatnya ruas jalan ibu kota Jawa Tengah, kami mencoba menguak cerita di balik kemudi bajaj, dari sisi pengemudi hingga pemiliknya.
Di tengah riuh kendaraan, Tribun Jateng bertemu Sudarsono, warga Kecamatan Semarang Tengah.
Pria ramah itu bukanlah sosok asing dengan dunia transportasi.
Ia merupakan pensiunan masinis yang kini memilih tetap bergerak, meski tak lagi di atas rel.
Rumahnya di kawasan Indraprasta menjadi saksi awal kisah baru tersebut.
Di sanalah Sudarsono menceritakan keputusannya berinvestasi pada dua unit bajaj yang kini ia sewakan kepada dua pengemudi kepercayaannya.
“Menurut saya, investasi ini progresnya baik,” ujar Sudarsono, Minggu (4/1/2026).
Keputusan itu terbukti tak meleset.
Dari dua unit bajaj yang beroperasi setiap hari, Sudarsono mengaku bisa mengantongi penghasilan bersih sekitar Rp 4 juta per bulan.
Jumlah yang cukup menjanjikan bagi usaha yang ia bangun selepas pensiun.
Rasa penasaran membuat Sudarsono tak hanya duduk di balik perhitungan.
Ia pun sempat turun langsung, merasakan sendiri bagaimana menjadi pengemudi bajaj online.
“Sempat narik juga beberapa hari. Biar tahu rasanya dan tanggapan masyarakat.
Ternyata banyak yang ingin naik,” tuturnya.
Meski berstatus sebagai pemilik, Sudarsono tak memosisikan dirinya sebagai atasan.
Ia memilih menyebut dua pengemudi bajajnya sebagai partner usaha.
Ia mengaku tak pernah menanyakan secara detail berapa penghasilan yang mereka peroleh setiap hari.
Namun senyum lebar yang selalu ia lihat menjadi jawaban tersendiri.
“Kalau ketemu mereka selalu kelihatan senang, tidak pernah mengeluh.
Dari situ saya merasa kebutuhan hidup mereka juga tercukupi,” katanya.
Untuk memastikan cerita tersebut bukan sekadar satu sudut pandang, Tribun Jateng melanjutkan penelusuran.
Di sekitar Stasiun Poncol, seorang pengemudi bajaj online tampak menepi sambil sesekali menatap layar ponselnya.
Namanya Harjono Arianto, warga Kaligawe, Semarang.
Di sela menunggu penumpang, ia bercerita apa adanya soal penghasilan hari itu.
“Hari ini lumayan, bersih bisa Rp 200 ribu lebih,” ucapnya.
Tak sekadar berkata, Harjono menunjukkan hasil aplikasinya.
Belum lama berbincang, ponselnya kembali bergetar.
Notifikasi penumpang masuk.
Sebelum beranjak menjemput pelanggan, Harjono menyampaikan satu kalimat sederhana yang menggambarkan banyak wajah pekerja informal hari ini.
“Kalau dibilang gacor ya gacor, tapi semua ada takarannya.
Yang penting saya bersyukur, di tengah susahnya cari kerja, ini sudah sangat membantu,” ujarnya sambil berpamitan.
















Discussion about this post