Candi Planggatan: Jejak Majapahit yang Tersembunyi di Lereng Lawu
Tersembunyi di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, berdiri Candi Planggatan, sebuah situs purbakala yang menyimpan bisikan kejayaan Kerajaan Majapahit. Berada di ketinggian 910 meter di atas permukaan laut, lokasinya yang berdekatan dengan Candi Sukuh bukan hanya sekadar kedekatan geografis, melainkan juga mencerminkan kesamaan gaya arsitektur dan jejak sejarah yang kental. Situs ini, yang telah dikelola sebagai cagar budaya oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah sejak tahun 1979, menawarkan pengalaman mendalam bagi siapa pun yang ingin menelusuri warisan nenek moyang.
Perjalanan menuju Candi Planggatan dari Kota Solo memakan waktu sekitar satu jam lebih, melintasi jalanan yang perlahan menanjak menuju kawasan pegunungan. Begitu tiba, pengunjung akan disambut oleh suasana yang tenang dan asri, di mana reruntuhan candi kini berbaur harmonis dengan pepohonan rindang, termasuk pohon beringin besar yang menambah aura mistis dan sakral pada situs ini. Luas situs mencapai 4.460 meter persegi, mengelilingi sebuah puncak yang menghadap ke hamparan wilayah sekitarnya. Kondisi sebagian besar situs masih dalam keadaan belum tergali sepenuhnya, menyisakan misteri di balik lapisan tanah dan akar pohon.
Struktur dan Kekayaan Relief Candi
Candi Planggatan tersusun dari tumpukan bebatuan berteras, meskipun garis batas antar tingkatannya kini sudah tidak begitu jelas terlihat. Di antara reruntuhan ini, ditemukan berbagai macam batu, baik yang polos maupun yang diukir dengan relief-relief menarik. Ukiran-ukiran ini tidak hanya sekadar hiasan, melainkan narasi visual yang menceritakan berbagai aspek kehidupan, kepercayaan, dan kesenian pada masa Majapahit.
Beberapa relief yang berhasil diidentifikasi antara lain:
- Tokoh Berkuda: Menggambarkan seorang tokoh penting yang menunggang kuda, diiringi oleh pengawal yang membawa senjata dan payung. Ini mengindikasikan adanya struktur sosial dan keprajuritan pada masa itu.
- Arsitektur Tradisional: Relief yang menampilkan rumah panggung dan pendapa, diiringi oleh pengawal. Hal ini memberikan gambaran mengenai bentuk permukiman dan tempat berkumpul masyarakat.
- Pasukan Bersenjata: Relief yang menunjukkan balatentara bersenjata tombak, memberikan gambaran tentang kekuatan militer dan pertahanan.
- Interaksi Sosial: Ukiran tokoh laki-laki dan perempuan yang didampingi oleh pengiring, serta kehadiran punakawan, menunjukkan adanya unsur hiburan dan dinamika sosial dalam masyarakat.
Gaya ukiran pada relief-relief ini sangat menyerupai yang ditemukan pada Candi Sukuh dan Candi Cetho, sebuah kesamaan yang memperkuat adanya pengaruh budaya dan seni Majapahit yang merata di wilayah ini.
Relief Gajah Wiku: Penanda Waktu dan Makna Spiritual
Salah satu temuan paling signifikan dan menarik di Candi Planggatan adalah relief yang dikenal sebagai Gajah Wiku. Relief ini menggambarkan sosok setengah manusia dan setengah gajah, dengan belalainya yang sedang memakan bulan sabit. Sosok gajah tersebut mengenakan sorban dan kain lipat, atribut yang lazim dikenakan oleh seorang begawan atau pendeta.
Relief Gajah Wiku ini bukan sekadar gambar, melainkan sebuah sengkalan memet atau penanda waktu dalam kalender Saka. Bunyi dari sengkalan ini adalah “Gajah wiku mangan wulan”, yang jika diterjemahkan merujuk pada tahun 1378 Saka atau 1456 Masehi. Menariknya, penanda waktu ini sama persis dengan yang ditemukan pada relief di Candi Sukuh, semakin menegaskan keterkaitan erat antara kedua situs ini.
Di samping relief Gajah Wiku, terdapat sebuah prasasti berukir empat baris. Prasasti ini juga menunjukkan kesamaan signifikan dengan prasasti yang ditemukan di Candi Cetho dan Candi Sukuh, yang semakin memperkuat hipotesis tentang adanya hubungan spiritual, budaya, dan bahkan kemungkinan tata kelola yang sama di antara ketiga situs purbakala tersebut.
Temuan Arkeologis Lainnya
Selain relief dan prasasti, penggalian dan penelitian di situs Candi Planggatan juga telah mengungkap berbagai artefak penting lainnya yang memberikan petunjuk mengenai fungsi dan kepercayaan masyarakat pada masa lalu.
Di antara temuan arkeologis tersebut adalah:
- Lingga-Yoni: Penemuan lingga dan yoni merupakan indikator kuat bahwa situs ini memiliki fungsi sebagai tempat pemujaan terhadap Dewa Siwa, salah satu dewa utama dalam agama Hindu.
- Bokor Batu: Ditemukannya bokor batu menunjukkan bahwa situs ini kemungkinan digunakan sebagai tempat untuk ritual persembahan atau sesaji.
- Batu Berelief Lain: Berbagai batu berukir lain yang menampilkan cerita-cerita keagamaan dan penggambaran aktivitas masyarakat pada masa itu.
Berdasarkan arah hadap candi yang menghadap ke Barat dan kesamaan relief dengan Candi Sukuh, para arkeolog memperkirakan bahwa Candi Planggatan memiliki orientasi yang searah dengan Candi Sukuh, mengarah ke arah spiritual tertentu. Penggalian awal oleh BP3 Jateng pada tahun 1985 sempat dilakukan, namun setelah diketahui arah hadap candi yang sebenarnya, batuan tersebut kemudian ditutup kembali untuk menjaga kelestariannya.
Nilai Sejarah, Budaya, dan Potensi Koneksi dengan Akhir Majapahit
Candi Planggatan bukan sekadar tumpukan batu tua. Ia adalah warisan hidup dari masa keemasan Majapahit, yang kaya akan nilai-nilai agama Hindu dan ritual keagamaan yang dijalankan oleh masyarakat kala itu. Relief dan prasasti yang ditemukan menjadi saksi bisu dari jalinan budaya dan seni yang terbentang di antara beberapa candi di Karanganyar, menunjukkan adanya pertukaran ide dan pengaruh yang kuat.
Lebih jauh lagi, beberapa ahli arkeologi dan sejarawan memiliki pandangan menarik mengenai potensi keterkaitan situs ini dengan momen-momen krusial di akhir Kerajaan Majapahit. Ada pendapat yang mengaitkan Candi Planggatan dengan Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit. Konon, sang raja sempat singgah di daerah sekitar Gunung Lawu sebelum menghembuskan napas terakhirnya. Keberadaan situs-situs seperti Candi Planggatan di kawasan ini dapat menjadi petunjuk penting untuk menelusuri jejak-jejak sejarah yang masih samar tersebut, membuka babak baru dalam pemahaman kita tentang sejarah Majapahit dan bagaimana pengaruhnya menyebar hingga ke pelosok negeri. Candi Planggatan, dengan segala misteri dan keindahannya, terus menunggu untuk diungkap lebih dalam.

















Discussion about this post