Jembrana Perkuat Garda Terdepan Pemberantasan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dengan Tambahan Vaksin LSD
Pemerintah Kabupaten Jembrana terus menunjukkan komitmen kuat dalam melindungi populasi ternak dari ancaman penyakit menular. Terbaru, upaya ini diperkuat dengan diterimanya tambahan dosis vaksin Lumpy Skin Disease (LSD) dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Pemberian vaksin ini menjadi langkah krusial dalam memutus mata rantai penyebaran virus LSD yang telah menjadi perhatian serius di sektor peternakan.
Perluasan Jangkauan Vaksinasi untuk Melindungi Sapi di Zona Merah
Sebanyak 3.940 dosis vaksin LSD kini telah didistribusikan kepada Pemkab Jembrana. Alokasi utama vaksin ini difokuskan pada populasi sapi, khususnya yang berada di wilayah yang telah teridentifikasi sebagai zona penularan LSD. Pendekatan ini dirancang untuk memberikan perlindungan maksimal bagi ternak yang paling rentan dan berisiko tinggi terpapar virus.
Meskipun jumlah tambahan vaksin ini disambut baik, perlu digarisbawahi bahwa angka tersebut masih belum mencukupi untuk menjangkau seluruh populasi sapi dan kerbau yang ada di Kabupaten Jembrana. Estimasi total populasi ternak di “Gumi Makepung” ini mencapai angka yang signifikan, yakni sekitar 41.000 ekor. Oleh karena itu, strategi vaksinasi akan terus dilakukan secara bertahap dan terukur seiring dengan ketersediaan dosis vaksin di masa mendatang.
Beberapa desa dan kelurahan telah ditetapkan sebagai zona penularan aktif LSD. Wilayah-wilayah tersebut meliputi:
- Kelurahan Baler Bale Agung, Kecamatan Negara
- Desa Baluk, Kecamatan Negara
- Desa Banyubiru, Kecamatan Negara
- Desa Manistutu, Kecamatan Melaya
Pada tahap awal pelaksanaan vaksinasi yang telah dimulai dua pekan lalu, ratusan ekor sapi di desa-desa tersebut telah menerima suntikan vaksin LSD. Pemberian dosis awal ini merupakan bagian dari komitmen Kementerian Pertanian yang sebelumnya telah menyalurkan sekitar 500 dosis.
“Astungkara (syukur) kami kembali mendapat tambahan vaksin. Kami akan melaksanakan vaksinasi ini secara bertahap, seiring dengan tambahan pemberian dosisnya,” ujar I Gusti Ngurah Putu Sugiarta, Kepala Bidang Peternakan, Kesehatan Hewan, dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan Jembrana. Beliau memberikan keterangan ini pada Minggu, 1 Februari 2026.
Prioritas Vaksinasi: Meminimalisir Sebaran Virus di Area Rentan
Sugiarta menegaskan bahwa pelaksanaan vaksinasi dilakukan dengan skala prioritas yang jelas. Sapi-sapi yang berada di desa-desa yang telah teridentifikasi sebagai zona tertular menjadi sasaran utama. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan potensi perluasan sebaran virus LSD ke wilayah lain.
“Fokus utama kami adalah pada daerah yang sudah tertular. Tujuannya adalah agar kami bisa meminimalisir penularan LSD ke sapi-sapi lainnya,” tambahnya. Pendekatan proaktif ini diharapkan dapat menciptakan zona aman di sekitar area yang terjangkit, sehingga melindungi ternak yang sehat dari paparan virus.
Koordinasi Berkelanjutan untuk Kebutuhan Vaksin Masa Depan
Meskipun adanya tambahan vaksin dari Kementerian Pertanian, Sugiarta kembali menekankan bahwa jumlah tersebut masih belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan estimasi populasi sapi di Jembrana. Kesenjangan antara jumlah dosis vaksin yang tersedia dan total populasi ternak menjadi tantangan yang harus dihadapi.
Untuk mengatasi hal ini, Pemkab Jembrana tidak tinggal diam. Pihaknya terus menjalin koordinasi yang intensif dengan Pemerintah Provinsi Bali serta Kementerian Pertanian. Tujuannya adalah untuk memastikan ketersediaan vaksinasi yang berkelanjutan di masa mendatang. Upaya ini krusial untuk terus menekan angka penularan LSD dan mencegah penyebarannya ke wilayah-wilayah lain yang belum terdampak.
Langkah-langkah strategis ini menunjukkan keseriusan Pemkab Jembrana dalam menjaga kesehatan dan produktivitas sektor peternakan. Dengan dukungan dari pemerintah pusat dan provinsi, serta partisipasi aktif dari peternak, diharapkan Kabupaten Jembrana dapat segera keluar dari ancaman penyakit LSD dan kembali menjadi daerah peternakan yang sehat dan berdaya saing.

















Discussion about this post