Bulan Bahasa Bali 2026: Perayaan Budaya Sekaligus Pelestarian Warisan Leluhur
Denpasar – Memasuki tahun kedelapan penyelenggaraannya, Bulan Bahasa Bali kembali hadir pada Februari 2026. Acara yang bertujuan untuk melestarikan dan mempromosikan kekayaan bahasa, aksara, dan sastra Bali ini dibuka secara resmi di Provinsi Bali pada Minggu, 1 Februari 2026. Gubernur Bali, Wayan Koster, meresmikan pembukaan acara akbar ini di Gedung Ksirarnawa, Art Centre Denpasar.
Pembukaan Bulan Bahasa Bali 2026 dimeriahkan oleh penampilan memukau dari Sanggar Seni KOKAR Bali (SMKN 3 Sukawati) yang membawakan garapan berjudul “Japatuan Ka Suargan”. Acara ini akan berlangsung selama sebulan penuh, hingga 28 Februari 2026, menawarkan serangkaian kegiatan menarik yang mencakup pementasan seni, berbagai jenis perlombaan, lokakarya kreatif, hingga upaya konservasi lontar.
Pelaksanaan Bulan Bahasa Bali ini, menurut Plt. Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Gde Wesnawa Punia, merupakan wujud nyata dari upaya penyebarluasan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 80 Tahun 2018 mengenai Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali, serta penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali itu sendiri.
Beragam Aktivitas Menarik dalam Bulan Bahasa Bali 2026
Perayaan pembukaan tidak hanya diwarnai oleh pertunjukan “Japatuan Ka Suargan”, tetapi juga dimeriahkan oleh festival menulis aksara Bali yang unik. Berbagai media digunakan dalam festival ini, mulai dari batu, tembaga, kain, hingga konsep baligrafi modern, kertas, rerajahan, bahkan format digital. Inisiatif ini menunjukkan fleksibilitas dan relevansi aksara Bali di era teknologi.
Selain itu, sebuah seminar penting turut digelar dengan fokus membahas isi lontar yang memiliki keterkaitan mendalam dengan pembangunan jiwa yang paripurna. Diskusi semacam ini krusial untuk menggali kembali kearifan lokal yang terkandung dalam warisan leluhur.
Rangkaian acara Bulan Bahasa Bali 2026 juga mencakup 17 jenis perlombaan yang dirancang untuk menguji dan meningkatkan keterampilan berbahasa Bali. Tak ketinggalan, workshop yang mengajarkan berbagai aspek, mulai dari teknik berbicara bahasa Bali hingga seni baligrafi, akan memberikan kesempatan bagi peserta untuk belajar dan berkreasi.
Pameran yang menampilkan kolaborasi antara teknologi dan industri kreatif yang berkaitan erat dengan bahasa, aksara, dan sastra Bali akan menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung dapat melihat bagaimana inovasi masa kini dapat bersinergi dengan kekayaan budaya masa lalu. Acara ini juga akan menyuguhkan apresiasi sastra dan kegiatan konservasi lontar, sebuah upaya vital untuk menjaga kelestarian naskah-naskah kuno yang kaya akan nilai sejarah dan budaya.
“Tahun ini, kami memberikan penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama kepada dua tokoh yang dinilai telah memberikan kontribusi luar biasa dalam perkembangan bahasa, sastra, dan aksara Bali,” ujar Ida Bagus Gede Wesnawa Punia.
Ajakan untuk Melestarikan Budaya Bali
Gubernur Bali, Wayan Koster, secara tegas mengajak seluruh masyarakat Bali untuk bersama-sama melestarikan bahasa, aksara, dan sastra Bali. Beliau menekankan bahwa warisan budaya ini merupakan salah satu pilar utama identitas Bali.
“Jangan sampai budaya kita mati. Jika sampai budaya Bali punah, hal pertama yang kita lakukan adalah berdosa kepada leluhur, dan kita semua akan terkena kutukan,” tegasnya. Koster menambahkan, sepengetahuannya, hanya di Bali yang memiliki acara khusus seperti Bulan Bahasa Bali yang didedikasikan untuk bahasa, aksara, dan sastra.
Gubernur Koster juga menyoroti masih adanya ketidaktertiban dalam penggunaan aksara Bali di berbagai tempat, seperti toko, hotel, restoran, kantor, dan fasilitas umum lainnya. Ia mendorong agar penggunaan aksara Bali menjadi sebuah gerakan kolektif yang tampil di setiap ruang publik.
Beliau membandingkan dengan negara-negara maju yang memiliki aksara sendiri, seperti Tiongkok, Jepang, dan Thailand, yang turut menjadi negara kuat. “Kita diwariskan aksara Bali ini, bagaimana leluhur menciptakan ‘ha na ca ra ka’. Kita hanya menggunakan, jika tidak tertib menggunakannya, itu namanya kebangetan,” paparnya.
Lebih lanjut, Koster berharap agar semua tempat dapat menggunakan aksara Bali secara dominan, bahkan idealnya tanpa harus bergantung pada aksara Latin. “Pergub Bali ini sudah sangat toleran. Jika ada di lingkungan Anda yang tidak menggunakan aksara Bali, tegurlah mereka. Jangan sampai Satpol PP yang harus turun. Ini harus menjadi kesadaran kolektif,” pungkasnya.
Bulan Bahasa Bali 2026 bukan sekadar perayaan, melainkan sebuah komitmen nyata untuk menjaga keberlangsungan warisan budaya Bali bagi generasi mendatang. Melalui berbagai kegiatan yang interaktif dan edukatif, diharapkan kesadaran akan pentingnya pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali semakin mengakar di hati masyarakat.
Upaya konservasi lontar, misalnya, menjadi gerbang untuk memahami lebih dalam filosofi dan sejarah peradaban Bali yang tertuang dalam lembaran-lembaran kuno tersebut. Sementara itu, festival menulis aksara Bali membuka ruang kreativitas bagi generasi muda untuk mengekspresikan identitas mereka melalui media yang beragam.
Pergub Nomor 80 Tahun 2018 menjadi landasan hukum yang kuat untuk memastikan bahwa bahasa, aksara, dan sastra Bali senantiasa dijaga dan dikembangkan. Pelaksanaan Bulan Bahasa Bali secara konsisten setiap tahunnya menjadi bukti bahwa pemerintah dan masyarakat Bali bersatu padu dalam visi pelestarian budaya.

















Discussion about this post