Konflik Memanas di Ethiopia: Perang Saudara Kembali Berkecamuk di Tigray
Situasi di Ethiopia kembali memanas seiring dengan pecahnya perang saudara yang melibatkan pasukan Pemerintah Federal Ethiopia dan Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF). Konflik ini dilaporkan terjadi di wilayah Tsemlet, Provinsi Tigray bagian barat, serta di bagian utara provinsi tersebut. Ketegangan yang meningkat dalam beberapa hari terakhir telah memaksa penghentian sementara aktivitas penerbangan di bandara Ibu Kota Addis Ababa.
“Situasi di sana sudah semakin memburuk,” ungkap seorang sumber anonim kepada AFP, menggambarkan eskalasi konflik yang mengkhawatirkan.
Sejarah Kelam Perang Saudara di Ethiopia
Perang saudara antara Pemerintah Federal Ethiopia dan TPLF bukanlah peristiwa baru. Konflik ini memiliki akar yang dalam, dengan pertempuran besar pertama kali pecah pada November 2020, yang kemudian dikenal sebagai Perang Tigray.
- Pemicu Awal: Perang Tigray dipicu oleh serangan pasukan TPLF terhadap markas pasukan Pemerintah Federal Ethiopia yang berlokasi di Provinsi Tigray.
- Respon Pemerintah: Sebagai tanggapan, Perdana Menteri Ethiopia saat itu, Abiy Ahmed, mengerahkan pasukan ke wilayah Tigray untuk melawan TPLF. Bentrokan senjata pun tak terhindarkan.
- Dukungan Militer: Pasukan Pemerintah Federal Ethiopia tidak bertempur sendirian. Mereka mendapatkan dukungan signifikan dari pasukan Pemerintah Eritrea, yang memiliki hubungan erat dengan PM Ahmed dan menunjukkan sikap permusuhan yang kuat terhadap TPLF.
Dampak Kemanusiaan yang Mengerikan
Perang antara pasukan Ethiopia dan TPLF berlangsung dengan intensitas tinggi, di mana kedua belah pihak berjuang keras untuk mempertahankan posisi masing-masing. Konflik ini akhirnya mereda setelah kedua pihak menyepakati perjanjian gencatan senjata pada November 2022.
Namun, kedamaian yang dicapai harus dibayar mahal. Laporan menyebutkan bahwa perang tersebut telah merenggut nyawa ratusan ribu orang. Selain korban jiwa, lebih dari tiga juta warga terpaksa meninggalkan rumah mereka dan mengungsi ke negara-negara tetangga demi mencari tempat yang aman.

Krisis Berkelanjutan di Provinsi Tigray
Meskipun perang saudara telah berakhir, Provinsi Tigray masih bergulat dengan krisis yang mendalam. Sebagian besar penduduk di wilayah tersebut hidup dalam kemiskinan dan kelaparan setiap hari. Situasi ini diperparah oleh penutupan diri Tigray dari bantuan Pemerintah Ethiopia, yang menyebabkan ketergantungan penuh pada bantuan internasional.
- Ketergantungan Bantuan Internasional: Data dari World Food Program (WFP) menunjukkan bahwa sekitar 80 persen penduduk Tigray sangat membutuhkan bantuan.
- Perubahan Bantuan USAID: Salah satu lembaga internasional yang menjadi tumpuan warga Tigray untuk mendapatkan bantuan adalah USAID. Namun, sejak Januari 2025, setelah Presiden Donald Trump menjabat, USAID tidak lagi mengirimkan bantuan ke Tigray. Keputusan ini diambil dengan alasan efisiensi, yang berujung pada pembubaran USAID oleh pemerintahan Trump.
- Dampak Pengurangan Pendanaan: Bantuan ke Tigray kini dikelola langsung oleh Pemerintah Amerika Serikat dalam jumlah yang terbatas. Hal ini menyebabkan kondisi warga Tigray, terutama dalam aspek kesehatan, semakin memprihatinkan.
- Tekanan pada Sistem Kesehatan: “Pemotongan pendanaan dari donor telah menambah tekanan pada sistem kesehatan masyarakat yang sudah rapuh,” ujar Joshua Eckley, seorang dokter relawan yang bertugas di Tigray, seperti dikutip dari Al Jazeera.

Situasi di Ethiopia menunjukkan kompleksitas konflik bersenjata dan dampaknya yang luas terhadap kehidupan sipil, terutama di wilayah yang terdampak langsung. Kebutuhan akan stabilitas dan bantuan kemanusiaan yang berkelanjutan tetap menjadi prioritas mendesak bagi warga Tigray.

















Discussion about this post