Pencarian Georgio Christian Faot Dihentikan Setelah Tujuh Hari Tanpa Hasil
Malaka, Nusa Tenggara Timur – Upaya pencarian intensif selama tujuh hari untuk menemukan Georgio Christian Faot alias Dito (15), seorang pelajar SMP Negeri Fatukoan asal Desa Niti, Kecamatan Rinhat, Kabupaten Malaka, yang diduga tenggelam di Pantai Abudenok, Desa Umatoos, Kecamatan Malaka Barat, akhirnya harus menemui titik akhir. Tim SAR Gabungan secara resmi menghentikan operasi pencarian pada Minggu, 8 Februari 2026, setelah berbagai upaya penyisiran di laut dan pesisir tidak membuahkan hasil.
Penghentian operasi ini bukan hanya menandai berakhirnya batas waktu pencarian sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), tetapi juga meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat setempat yang sejak hari pertama kejadian turut aktif dalam upaya penyelamatan.
Pengerahan Sumber Daya Maksimal dalam Operasi Pencarian
Pelaksana Harian Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Malaka, Fransiskus Xaverius Fahik, pada Senin (9/2/2026) menjelaskan bahwa selama sepekan penuh, seluruh potensi yang ada telah dikerahkan secara maksimal. Unsur SAR, aparat keamanan, pemerintah desa, tokoh adat, hingga masyarakat umum bahu-membahu menyusuri laut dan pesisir Pantai Abudenok.
“Sejak hari pertama kejadian, semua pihak bekerja tanpa lelah. Laut disisir, pantai dipantau, bahkan ritual adat juga dilakukan sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat setempat,” ujar Fransiskus.
Dalam operasi pencarian yang terpadu ini, Tim SAR Gabungan mengerahkan berbagai armada dan teknologi:
- Tujuh unit perahu nelayan tradisional.
- Satu unit perahu karet milik Basarnas.
- Drone milik Polres Malaka untuk memantau garis pantai dari udara.
Area pencarian diperluas secara signifikan, mencakup wilayah mulai dari Pantai Abudenok hingga Pantai Taberek di Desa Alkani, Kecamatan Wewiku. Namun, hingga hari ketujuh, upaya ini belum membuahkan petunjuk mengenai keberadaan korban.
Prosedur dan Dukungan Pasca-Penghentian Operasi
Meskipun operasi pencarian secara prosedural telah dihentikan, Fransiskus menegaskan bahwa Tim SAR tetap membuka ruang untuk pemantauan lanjutan. Hal ini dilakukan apabila di kemudian hari muncul informasi baru yang dapat mengarah pada penemuan korban.
“Tim Basarnas sudah kembali ke Kefamenanu, namun mereka tetap siaga 1×24 jam apabila ada informasi atau tanda-tanda yang mengarah pada korban,” tambahnya.
Secara administratif, Tim SAR Gabungan bersama pihak keluarga korban telah menandatangani berita acara penghentian operasi pencarian. Hari terakhir pencarian ditutup dengan upacara adat pendinginan yang dipimpin oleh tokoh adat setempat. Ritual ini dilakukan sebagai bentuk doa dan harapan agar keluarga korban, seluruh petugas, serta masyarakat yang terlibat dalam pencarian diberikan kekuatan dan dijauhkan dari musibah serupa di masa mendatang.
“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Secara prosedur operasi dihentikan, namun secara kemanusiaan dan doa, kami tetap bersama keluarga,” pungkas Fransiskus.
Kronologi dan Harapan Keluarga
Peristiwa nahas ini bermula pada Minggu, 1 Februari 2026, ketika Georgio Christian Faot alias Dito (15), bersama rombongan teman-temannya, mengunjungi Pantai Cemara Abudenok untuk berekreasi. Setelah makan siang dan bersiap untuk pulang, beberapa anak-anak meminta izin untuk mandi di laut. Dito disebut sebagai orang pertama yang masuk ke air, diikuti oleh adiknya. Namun, tak lama kemudian, peristiwa tenggelam tersebut terjadi.
Paman korban, Severinus Nahak, yang mewakili keluarga besar korban, menyampaikan harapan yang tulus dan penuh kegetiran. “Kami keluarga besar dari Biudukfoho sangat berharap agar kami bisa membawa pulang anak kami, dalam keadaan apa pun,” ujarnya dengan suara bergetar. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh pihak yang telah membantu proses pencarian, termasuk Kepolisian Resor Malaka, Polsek Malaka Barat, tim Basarnas, para nelayan, BPBD Kabupaten Malaka, pengelola pariwisata Pantai Cemara Abudenok, serta semua pihak yang telah memberikan dukungan.
Keluarga korban memilih untuk tetap tinggal di sekitar Pantai Cemara Abudenok sejak hari kejadian, menolak kembali ke kampung halaman di Biudukfoho, Desa Niti, Kecamatan Rinhat, hingga Dito ditemukan.
Mama angkat korban, Etelia Bani, juga turut berbagi kesaksian dengan penuh emosi. Ia mengaku menerima kabar tenggelamnya korban dari teman-teman Dito yang menelepon menggunakan ponsel milik korban. “Saat itu kami sedang di kebun. Mereka telepon bilang, Mama, Dito tenggelam di laut,” kenangnya. Mendengar kabar tersebut, Etelia mengaku panik dan tak kuasa menahan emosi, berharap agar anaknya dapat segera ditemukan.
Ritual Adat dan Dukungan Masyarakat
Di tengah upaya pencarian yang intensif, keluarga korban juga telah melakukan berbagai ritual adat. Hal ini melibatkan para tetua adat setempat sebagai bagian dari ikhtiar batin agar korban dapat segera ditemukan.
Pantauan di lokasi menunjukkan Pantai Cemara Abudenok masih ramai oleh masyarakat yang datang untuk menunggu sekaligus ikut membantu pencarian. Personel Polres Malaka, Polsek Malaka Barat, BPBD Kabupaten Malaka, Tim Basarnas Kupang, serta para nelayan setempat terus bergantian melakukan penyisiran laut.
Di area pantai, sebuah tenda berwarna merah marun bertuliskan ‘Kemensos Selalu Ada’ didirikan, berfungsi sebagai tempat berteduh dan pusat koordinasi selama proses pencarian berlangsung. Pemandangan yang paling mengiris hati terlihat di bibir pantai, di mana ibu kandung korban bersama adiknya berlutut, menangis, dan terus meneriakkan nama Dito sambil memandang laut dengan mata sembab. Tangisan mereka menambah suasana haru, bahkan membuat sejumlah warga yang berada di sekitar lokasi ikut meneteskan air mata.

















Discussion about this post