BATAM — Keluhan sebagian warga Perumahan Royal Bay Batam Center terhadap aktivitas olahraga di Tamora Padel menuai respons beragam. Di tengah tudingan kebisingan dari dentuman bola dan musik, sejumlah pihak justru menilai olahraga padel tidak menimbulkan suara yang mengganggu seperti yang diberitakan.
Sebelumnya, sebuah pemberitaan menyebut warga mengeluhkan suara hantaman bola, teriakan pemain, hingga musik yang diputar dari pagi hingga malam hari, yang disebut mengganggu waktu istirahat penghuni perumahan.
Warga bahkan mempertanyakan proses perizinan serta kesesuaian lokasi fasilitas olahraga yang berada dekat kawasan hunian.
Namun, sejumlah pengamat olahraga dan pelaku usaha padel menilai tudingan tersebut perlu dilihat secara objektif. Padel dikenal sebagai olahraga raket yang relatif ramah lingkungan, dengan tingkat kebisingan lebih rendah dibanding futsal, basket, atau tenis lapangan keras.
Suara benturan bola pada dinding kaca atau raket disebut bersifat ritmis dan tidak menimbulkan ledakan suara keras seperti mesin atau alat berat. Bahkan, di banyak kota besar, lapangan padel justru dibangun di kawasan permukiman atau pusat komunitas karena dianggap sebagai olahraga rekreasi yang aman dan minim gangguan.
Selain itu, keberadaan fasilitas olahraga seperti padel dinilai membawa dampak positif, mulai dari peningkatan aktivitas fisik masyarakat, ruang interaksi sosial, hingga pertumbuhan ekonomi lokal melalui usaha pendukung.
Beberapa pihak juga menilai, munculnya penolakan bisa saja dipengaruhi faktor non-teknis, termasuk persaingan usaha atau perbedaan kepentingan di kawasan tersebut. Karena itu, dialog terbuka antara pengelola, warga, dan pihak berwenang dinilai menjadi langkah paling bijak agar persoalan tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan.
“Padel itu olahraga komunitas, bukan olahraga bising. Di banyak tempat justru menjadi pusat gaya hidup sehat. Yang penting adalah pengaturan jam operasional dan manajemen suara yang baik,” ujar salah satu pelaku olahraga di Batam.
Dengan tren olahraga padel yang terus berkembang di Indonesia, banyak kalangan berharap polemik ini diselesaikan secara proporsional, tanpa mematikan aktivitas olahraga yang berpotensi menjadi bagian dari gaya hidup sehat masyarakat perkotaan.
Dialog, bukan konflik, dinilai sebagai jalan tengah agar kawasan hunian tetap nyaman, sementara kegiatan olahraga dan usaha tetap bisa berjalan.


















Discussion about this post