Pergerakan Rupiah: Menguat Terbatas di Tengah Sentimen Campuran
Pada perdagangan Senin, 9 Februari 2026, nilai tukar rupiah di pasar spot menunjukkan pergerakan yang positif. Rupiah dibuka pada level Rp16.873 per dolar Amerika Serikat (AS), mengindikasikan penguatan tipis sebesar 3 poin atau 0,02 persen dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya. Penguatan ini terjadi di tengah pergerakan positif mata uang Asia lainnya, yang secara kolektif menunjukkan sentimen yang membaik di pasar keuangan regional.
Mata Uang Asia Menunjukkan Tren Penguatan
Kondisi pasar pada hari ini memperlihatkan tren penguatan di antara sejumlah mata uang Asia terhadap dolar AS. Hal ini memberikan dorongan positif bagi rupiah untuk ikut bergerak naik. Rincian pergerakan mata uang di Asia adalah sebagai berikut:
- Ringgit Malaysia: Mencatat penguatan sebesar 0,02 persen.
- Baht Thailand: Mengalami penguatan yang lebih signifikan, yaitu sebesar 0,14 persen.
- Peso Filipina: Juga menunjukkan apresiasi nilai, dengan penguatan sebesar 0,13 persen.
Pergerakan seragam di antara mata uang regional ini mencerminkan adanya aliran modal yang cenderung masuk ke aset-aset Asia, seiring dengan membaiknya sentimen risiko di pasar keuangan global.
Proyeksi Penguatan Rupiah yang Terbatas
Meskipun tren penguatan terlihat, para analis memproyeksikan bahwa potensi apresiasi rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini akan bersifat terbatas. Lukman Leong, seorang analis dari Doo Financial Futures, menyatakan bahwa sentimen risk on yang membaik di pasar keuangan global menjadi salah satu faktor pendorong penguatan rupiah. Namun, ia menekankan bahwa ruang penguatan tersebut akan dibatasi oleh beberapa faktor domestik yang masih perlu dicermati oleh para pelaku pasar.
“Sentimen domestik yang belum sepenuhnya solid menjadi penahan bagi penguatan rupiah yang lebih agresif,” ujar Lukman. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun ada dorongan positif dari pasar global, faktor-faktor internal di Indonesia masih menjadi pertimbangan utama bagi investor.
Rencana Pelantikan Sebagai Deputi Gubernur BI Beri Sentimen Negatif
Salah satu faktor domestik yang diprediksi akan memberikan tekanan pada rupiah hari ini adalah rencana pelantikan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Lukman Leong secara spesifik menyoroti hal ini sebagai sentimen negatif yang berpotensi menekan nilai tukar rupiah.
“Posisi keponakan sebagai deputi BI adalah salah satu sentimen negatif domestik saat ini yang akan menekan rupiah,” tegasnya. Penunjukan ini, menurut pandangan pasar, dapat menimbulkan kekhawatiran terkait independensi dan pengambilan kebijakan BI, meskipun belum ada kepastian mengenai dampaknya secara langsung.
Secara teknikal, pergerakan rupiah diperkirakan akan tetap berada dalam kisaran yang relatif sempit. Analis memprediksi rupiah akan bergerak terbatas dengan rentang perdagangan di level Rp16.800 hingga Rp16.900 per dolar AS sepanjang hari ini. Batasan ini menunjukkan bahwa pasar sedang mencerna berbagai informasi dan sentimen yang saling tarik-menarik, baik dari sisi global maupun domestik.
Pada akhir perdagangan hari ini, rupiah tercatat ditutup pada level Rp16.876 per dolar AS. Posisi penutupan ini menunjukkan bahwa penguatan awal yang terjadi di sesi pembukaan perdagangan tidak mampu bertahan sepenuhnya, dan rupiah mengalami sedikit pelemahan dibandingkan dengan level pembukaan. Hal ini menegaskan proyeksi penguatan yang terbatas dan adanya tekanan dari sentimen domestik yang diperkirakan akan terus mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu ke depan. Para pelaku pasar akan terus memantau perkembangan sentimen global dan domestik, terutama terkait dengan kebijakan ekonomi dan stabilitas politik di Indonesia, yang akan menjadi kunci pergerakan rupiah selanjutnya.

















Discussion about this post