Pergeseran Paradigma Riset di Jawa Timur: Menuju Solusi Industrial dan Dampak Nyata bagi Masyarakat
Surabaya – Perhimpunan Peneliti Indonesia (PPI) Jawa Timur menggarisbawahi pergeseran krusial dalam arah penelitian di wilayahnya. Fokus utama kini diarahkan pada penelitian yang lebih aplikatif, berorientasi industri, dan mampu memberikan dampak langsung serta terukur bagi kesejahteraan masyarakat, khususnya para petani dan pelaku usaha di sektor pangan dan pertanian. Penegasan ini mengemuka dalam Rapat Kerja Evaluasi Kinerja 2025 PPI Jawa Timur yang diselenggarakan di CWC Kebun Raya Purwodadi.
Evaluasi kinerja ini bukanlah ajang untuk mencari kesalahan individu atau lembaga, melainkan sebuah mekanisme penting untuk mengukur sejauh mana riset yang dihasilkan oleh para peneliti di Jawa Timur tetap relevan, memiliki daya ungkit yang kuat, dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Dari Laporan Menjadi Solusi Nyata
Prof. Dr. Ir. Abdul Hamid, M.P., Ketua Dewan Pakar PPI Korwil Jawa Timur, menekankan sebuah perubahan fundamental yang harus diadopsi oleh para peneliti. “Peneliti hari ini tidak boleh lagi hanya sekadar menjadi penghasil laporan, publikasi, atau prosiding,” tegasnya. “Peneliti harus hadir sebagai penyedia solusi nyata. Jika riset hanya berhenti di meja diskusi dan tersimpan rapi di rak-rak laporan, maka publik berhak mempertanyakan eksistensi dan kontribusi kita.” Pernyataan ini menegaskan pentingnya relevansi riset dengan kebutuhan riil di lapangan. Prof. Hamid, yang juga menjabat sebagai Peneliti Utama di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta BRIDA Jawa Timur, menggarisbawahi bahwa masa depan penelitian terletak pada kemampuannya menjawab tantangan aktual.
Evaluasi Kinerja 2025: Kekuatan pada Publikasi, Tantangan pada Hilirisasi
Hasil evaluasi kinerja tahun 2025 menunjukkan bahwa PPI Jawa Timur telah mencapai capaian yang patut diapresiasi dari sisi produktivitas ilmiah. Jumlah publikasi dan karya ilmiah memang cukup menggembirakan. Namun, dari sisi dampak ekonomi dan sosial, riset yang dihasilkan dinilai masih belum mencapai potensi optimalnya. Banyak penelitian yang belum berhasil diterjemahkan menjadi produk inovatif, teknologi terapan yang siap pakai, atau peningkatan pendapatan yang signifikan bagi masyarakat.
Beberapa persoalan utama yang teridentifikasi dalam evaluasi ini meliputi:
* Minimnya Riset Berbasis Kebutuhan Industri: Banyak riset yang belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan spesifik industri, sehingga sulit untuk diadopsi dan dikembangkan lebih lanjut.
* Keterbatasan Demplot Lapangan: Kurangnya demonstrasi plot atau lahan percontohan yang memadai menghambat pengujian dan validasi hasil riset di kondisi nyata.
* Kolaborasi Administratif Tanpa Alih Teknologi: Kerjasama yang terjalin seringkali masih bersifat formalitas administratif, tanpa adanya transfer teknologi yang substansial dan nyata kepada pihak mitra.
Mendorong Riset untuk Menembus Batas Industri Pertanian
Menjawab tantangan yang ada, PPI Jawa Timur secara tegas menyatakan bahwa mulai tahun 2026, riset harus berani melangkah lebih jauh, yaitu masuk ke ranah industri. Prioritas utama diberikan pada industri pertanian dan ketahanan pangan, mengingat sektor ini merupakan tulang punggung perekonomian daerah.
“Penelitian harus naik kelas, bertransformasi dari sekadar kajian akademik menjadi solusi konkret bagi permasalahan industri,” ujar Prof. Hamid. “Jika para peneliti masih merasa takut atau enggan untuk terlibat langsung dengan industri, maka inovasi yang dihasilkan akan berisiko mati di tengah jalan sebelum mampu memberikan manfaat.”
Beberapa contoh jenis riset yang akan didorong secara intensif meliputi:
* Pengembangan sistem irigasi presisi yang memanfaatkan sensor tanah dan data cuaca untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air.
* Teknologi pengering jagung yang hemat energi, dirancang khusus untuk kebutuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pascapanen.
* Inovasi alat-alat pertanian yang adaptif dan sesuai dengan kondisi geografis serta kebutuhan spesifik di Jawa Timur.
Langkah-langkah strategis ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi produksi pertanian, memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim, serta meningkatkan daya saing produk pertanian lokal di pasar yang semakin kompetitif.
Arah Strategis 2026: Kolaborasi dan Dampak sebagai Titik Fokus
Memasuki tahun 2026, PPI Jawa Timur telah menetapkan sejumlah arah strategis yang akan menjadi panduan utama dalam kegiatan penelitian. Beberapa poin penting meliputi:
- Kewajiban Kontribusi Riset Kolaboratif: Setiap peneliti diwajibkan untuk berkontribusi minimal pada satu riset kolaboratif yang memiliki dampak langsung bagi daerah.
- Penguatan Riset Berbasis Kewirausahaan: Mendorong peneliti untuk tidak hanya menghasilkan temuan, tetapi juga mampu mengembangkan potensi komersialisasinya melalui pendekatan kewirausahaan.
- Fokus pada Isu Prioritas Nasional dan Daerah: Riset akan difokuskan pada isu-isu krusial seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG), penguatan ketahanan pangan, mitigasi dan adaptasi bencana, serta upaya mengatasi kesenjangan pembangunan antara wilayah utara dan selatan Jawa Timur.
Selain itu, PPI juga akan menggalakkan pembangunan demplot berbasis teknologi digital dan Internet of Things (IoT) untuk mempermudah pemantauan dan pengelolaan. Penyusunan database riset unggulan juga menjadi agenda penting guna memastikan penelitian yang dilakukan lebih terarah, terintegrasi, dan menghindari tumpang tindih.
Kritik Publik sebagai Cerminan Dampak Riset
Dalam forum evaluasi tersebut, ditegaskan pula bahwa kritik yang datang dari publik merupakan konsekuensi yang wajar dan bahkan perlu jika penelitian yang dihasilkan tidak menunjukkan dampak yang nyata. “Tanpa karya yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, kritik publik akan datang dengan sendirinya. Hal ini harus kita jawab dengan kerja nyata dan hasil yang terukur, bukan dengan sekadar memberikan pembelaan diri,” tegas Prof. Hamid.
Ketua Umum Perhimpunan Peneliti Indonesia, Dr. Anang, menambahkan bahwa keberhasilan seorang peneliti di masa depan akan diukur dari perubahan riil yang terjadi di lapangan, bukan semata-mata dari banyaknya laporan yang dihasilkan. “Ketika hasil riset benar-benar digunakan oleh para petani dan industri, martabat serta relevansi seorang peneliti akan terangkat dengan sendirinya,” ujarnya optimistis.
Menjadi Penggerak Ekosistem Ilmiah Nasional
Ke depan, PPI Jawa Timur berencana untuk mengambil peran lebih aktif dalam ekosistem ilmiah nasional. Salah satu inisiatif yang akan digagas adalah penyelenggaraan seminar nasional yang berfokus pada riset terapan. Lebih lanjut, PPI akan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai institusi, termasuk BRIN, BRIDA, dan mitra internasional, dengan tujuan utama mewujudkan transfer teknologi yang konkret dan memberikan nilai tambah nyata, bukan sekadar penandatanganan nota kesepahaman (MoU) tanpa tindak lanjut yang berarti.

















Discussion about this post