Tragedi Memilukan di Dompu: Ayah Tega Habisi Nyawa Anak Kandung, Jasad Disimpan di Lemari
Dompu, Nusa Tenggara Barat – Sebuah peristiwa kelam yang mengguncang hati sanubari terjadi di Desa Mbawi, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Seorang bocah laki-laki berusia lima tahun ditemukan meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan, diduga kuat menjadi korban kekejaman ayah kandungnya sendiri, yang diidentifikasi sebagai AH (29). Peristiwa tragis ini terjadi pada Jumat, 6 Februari 2026, meninggalkan luka mendalam bagi keluarga dan masyarakat setempat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, bocah malang tersebut diduga tewas akibat dicekik oleh pelaku hingga kehilangan nyawanya. Yang lebih mengerikan, setelah memastikan sang anak tak bernyawa, pelaku dengan tega menyimpan jasadnya di dalam sebuah lemari pakaian di rumah mereka, seolah tak ada penyesalan atas perbuatannya.
Kepala Seksi Humas Polres Dompu, Inspektur Polisi Satu (Iptu) I Nyoman Suardika, membenarkan adanya insiden pembunuhan terhadap anak di bawah umur ini. “Benar, telah terjadi tindak pidana pembunuhan terhadap anak di bawah umur yang dilakukan oleh ayah kandungnya sendiri,” ujar Iptu Suardika pada Minggu, 7 Februari 2026. Pernyataan ini menegaskan betapa mengerikannya kejadian yang memilukan ini.
Kronologi Peristiwa yang Mengejutkan
Peristiwa ini bermula pada Jumat sore, ketika korban pulang ke rumah bersama ibunya usai menghadiri sebuah pesta pernikahan. Kehidupan normal keluarga itu seketika berubah menjadi mimpi buruk di malam harinya. Saat itu, korban berada di rumah bersama ayahnya. Namun, pada waktu yang tidak dapat dipastikan secara pasti, pelaku diduga kuat telah melakukan tindakan keji dengan mencekik anaknya hingga tak sadarkan diri dan akhirnya meninggal dunia.
Setelah perbuatan sadis itu dilakukan, pelaku kemudian menyembunyikan jasad anaknya di dalam lemari pakaian. Kejadian mengerikan ini baru terungkap ketika korban tidak terlihat oleh keluarga dan dilaporkan menghilang. Hilangnya bocah lima tahun tersebut sontak memicu kepanikan di kalangan warga. Mereka segera membentuk tim pencarian untuk menemukan sang anak.
“Korban sempat dilaporkan menghilang, sehingga warga langsung melakukan pencarian,” jelas Suardika. Dalam upaya pencarian yang dilakukan dengan penuh harap, tim gabungan menemukan jasad korban dalam kondisi kaku di dalam lemari pakaian. Penemuan ini sontak mengagetkan semua orang yang hadir dan memicu kemarahan yang luar biasa di hati warga.
Warga Kepung Rumah Pelaku, Polisi Berhasil Amankan
Mengetahui bahwa pelaku pembunuhan sadis ini adalah ayah kandung korban sendiri, emosi warga tak terbendung. Massa yang dipenuhi amarah segera mengepung rumah pelaku dengan niat untuk melakukan aksi main hakim sendiri. Situasi sempat memanas dan berpotensi menimbulkan kekacauan lebih luas.
Menyadari urgensi situasi, aparat kepolisian dari Polres Dompu segera dikerahkan ke lokasi kejadian. Dengan sigap, tim kepolisian berhasil meredam amukan massa dan mengamankan pelaku sebelum situasi semakin memburuk. “Warga mengepung rumah pelaku untuk menghakimi AH. Namun tim Pamapta II Polres Dompu berhasil meredam situasi dan mengamankan pelaku ke Polres Dompu,” terang Suardika. Kehadiran polisi sangat krusial dalam mencegah tindakan main hakim sendiri dan memastikan proses hukum dapat berjalan.
Riwayat Gangguan Jiwa Pelaku: Fakta yang Mengejutkan
Dari hasil pendalaman awal yang dilakukan oleh pihak kepolisian, terungkap fakta mengejutkan mengenai kondisi kejiwaan pelaku. Diketahui bahwa AH memiliki riwayat gangguan jiwa. Ia tercatat pernah menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa pada tahun 2019.
“Pelaku ini merupakan penyintas gangguan jiwa dan pernah dirawat di rumah sakit jiwa,” ungkap Suardika. Pihak kepolisian menduga kuat bahwa pelaku mengalami episode psikotik berat saat melakukan perbuatannya. Kondisi ini diduga membuatnya kehilangan akal sehat, kendali diri, serta empati terhadap anaknya sendiri.
Meskipun demikian, penyelidikan terhadap kasus ini tetap berlanjut. Pihak kepolisian akan terus mendalami kasus ini dengan melibatkan tenaga medis profesional dan ahli kejiwaan. Tujuannya adalah untuk menentukan status pertanggungjawaban hukum pelaku secara akurat, mempertimbangkan kondisi kejiwaannya. “Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait kondisi kejiwaan pelaku dengan melibatkan ahli,” tambahnya.
Pasca-kejadian tragis ini, aparat keamanan masih terus melakukan penjagaan di sekitar lokasi kejadian. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi potensi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dan menjaga stabilitas keamanan di desa tersebut. Hingga Minggu, situasi di Desa Mbawi dilaporkan berangsur pulih dan kembali kondusif. “Saat ini kondisi desa sudah mulai kembali tenang,” pungkas Suardika. Peristiwa ini menjadi pengingat yang menyakitkan akan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental dan pencegahan kekerasan dalam rumah tangga.

















Discussion about this post