Organisasi Islam Makassar dan Sulsel Matangkan Persiapan Dakwah Sambut Ramadan 1447 H
Menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah yang semakin dekat, berbagai organisasi masyarakat Islam terkemuka di Kota Makassar dan Sulawesi Selatan (Sulsel) telah mematangkan persiapan dakwah. Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Wahdah Islamiyah, dan Hidayatullah mengerahkan ratusan dai dan muballigh untuk mengisi berbagai kegiatan keagamaan, mulai dari ceramah tarawih, kajian rutin, tadarus Alquran, hingga pembinaan keagamaan di masjid dan lingkungan masyarakat.
Muhammadiyah Makassar Siapkan 182 Muballigh untuk 123 Masjid
DPD Muhammadiyah Makassar telah menyiapkan sebanyak 182 muballigh yang akan disebar ke 123 masjid di seluruh wilayah Makassar selama Ramadan 2026. Para muballigh ini telah melalui proses seleksi dan pembinaan yang ketat untuk memastikan kualitas dakwah yang disampaikan.
Ketua Majelis Tabligh DPD Muhammadiyah Makassar, Munir Abdul Rahman, menekankan pentingnya penyampaian dakwah yang bijak dan menyejukkan. “Kami menekankan agar dakwah disampaikan dengan hikmah, tidak menyinggung pihak mana pun, dan tetap menjaga persatuan umat,” ujar Munir.
Sebagai bagian dari persiapan, Majelis Tabligh Muhammadiyah Makassar akan menggelar kegiatan “Refreshing Dai” pada 7 Februari 2026 di Masjid Baiturahman, Panaikang. Kegiatan ini bertujuan untuk menyamakan persepsi serta membekali para muballigh dengan teknik berdakwah yang efektif.
Dari 123 masjid yang menjadi mitra Muhammadiyah Makassar, sebagian telah menjalin kerja sama selama bertahun-tahun, sementara sebagian lainnya baru bergabung pada Ramadan tahun ini. Kebutuhan muballigh bervariasi, mulai dari permintaan untuk mengisi setiap malam hingga hanya pada malam-malam tertentu. Pengurus masjid diberikan ruang untuk mengusulkan nama muballigh atau menyampaikan kriteria muballigh yang dibutuhkan.
Persyaratan bagi muballigh Muhammadiyah meliputi memiliki wawasan dakwah yang luas, fasih membaca Alquran, memiliki rekomendasi dari cabang, serta lulus pendidikan dan tes yang diselenggarakan oleh Majelis Tabligh. Mayoritas muballigh berasal dari Makassar, dengan komposisi sekitar 90 persen yang terdiri dari unsur pimpinan Muhammadiyah, akademisi, dan aktivis dakwah. Dari sisi usia, sekitar 60 persen muballigh berusia antara 25-40 tahun, sementara sisanya berusia 50-60 tahun.
NU Sulsel Menunggu Keputusan Pemerintah untuk Awal Ramadan
Sementara itu, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulawesi Selatan memastikan seluruh persiapan Ramadan 1447 Hijriah dilakukan dengan mengikuti arahan pemerintah. NU tidak menetapkan tanggal awal puasa secara mandiri, melainkan menunggu keputusan resmi melalui sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama.
Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Sulsel, Prof Dr KH Muammar Bakry, menyatakan, “Penataan Ramadan kita ikuti pemerintah melalui sidang isbat.” Sidang isbat penetapan awal Ramadan dijadwalkan pada 17 Februari 2026, yang akan melibatkan Majelis Ulama Indonesia (MUI), ormas Islam, dan instansi terkait.
Selain menunggu penetapan awal puasa, NU Sulsel juga menyiapkan berbagai agenda syiar Ramadan, termasuk ceramah sebelum tarawih, pengajian rutin, tadarus Alquran, dan kegiatan sosial. NU Sulsel juga akan mengerahkan ratusan muballigh yang bertugas di seluruh kabupaten/kota di Sulsel, dengan setiap pengurus daerah bertanggung jawab menyiapkan muballigh di wilayah masing-masing.
Pendekatan dakwah NU menekankan prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah, dengan fokus pada penguatan moderasi, toleransi, dan kebersamaan umat.
Wahdah Islamiyah Makassar Gelar Penataran dan Gerakan Sejuta Dai
Wahdah Islamiyah Makassar menggelar kegiatan “Penataran Seputar Ramadan (PSR) 1447 Hijriah” sebagai bagian dari persiapan dakwah. Kegiatan yang bertempat di Masjid Raya Bukit Baruga, Makassar, ini menjadi momentum pembekalan umat menyambut Ramadan sekaligus dirangkai dengan “Gerakan Sejuta Dai.”
Sekretaris DPD Wahdah Islamiyah Makassar, Muhammad Istiqamah, menjelaskan, “Melalui gerakan ini, kami ingin memperluas jangkauan dakwah hingga ke masyarakat yang belum tersentuh pembinaan.”
Selama Ramadan 2026, Wahdah Islamiyah akan mengerahkan sekitar 250 dai di Makassar. Secara nasional, jumlah dai dan daiah yang diturunkan diperkirakan mencapai ribuan orang. Mereka akan bertugas mengisi ceramah, pembinaan umat, pengajaran Alquran, serta pengajian ibu dan anak, sebagai bentuk pengabdian kepada umat.
Hidayatullah Makassar Fokus pada Program “Da’i Lorong”
DPD Hidayatullah Makassar melanjutkan program dakwah rutinnya selama Ramadan 2026 dengan fokus pada pengisian ceramah Ramadan dan khatib salat Jumat. Kepala Departemen Dakwah dan Pelayanan Umat DPD Hidayatullah Makassar, Syamsul, menyatakan bahwa pihaknya akan menurunkan 10 dai yang tersebar di 10 kecamatan di Makassar melalui program “Da’i Lorong.” Program ini merupakan kerja sama dengan Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kota Makassar.
“Setiap pekan ada ceramah dan mengaji. Program ini akan berlanjut selama Ramadan,” kata Syamsul. Selain itu, Hidayatullah juga aktif mengisi kajian di rumah rehabilitasi narkoba, pembinaan rumah Qur’an, dan majelis Qur’an di setiap kecamatan.
Ketua Hidayatullah Makassar, Dr Irfan Yahya, menekankan pentingnya pendekatan spiritual dalam dakwah agar mampu menyentuh akal dan jiwa masyarakat. “Pendekatan spiritual menjadi penting untuk meredam polarisasi dan kontraksi sosial di tengah masyarakat perkotaan,” ujarnya.
Melalui berbagai program ini, organisasi-organisasi Islam di Makassar dan Sulsel berharap Ramadan 2026 menjadi momentum untuk memperkuat iman, persatuan, dan kepedulian sosial umat. Dakwah yang disampaikan diharapkan tidak hanya menguatkan ibadah individual, tetapi juga membangun harmoni dan kebersamaan di tengah masyarakat.
Pondok Pesantren Al-Irsyad DDI Patojo Siapkan Santri untuk Dakwah Ramadan
Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Pondok Pesantren Al-Irsyad DDI Patojo, Kabupaten Soppeng, menyiapkan kegiatan “Daurah Dakwah Santri.” Kegiatan ini mengusung tema “Optimalisasi Peran Santri dalam Dakwah Islam Rahmatan lil Alamin” dan dijadwalkan berlangsung selama enam hari, mulai 10 hingga 15 Februari 2026.
Pimpinan Umum DDI Patojo, Prof Andi Aderus, menjelaskan bahwa daurah ini bertujuan membekali santri agar siap terjun langsung berdakwah selama Ramadan. “Menyambut bulan suci Ramadan, kami menggelar daurah atau pelatihan santri untuk diberdayakan selama bulan Ramadan,” ujarnya. Momentum Ramadan diharapkan menjadi sarana peningkatan kualitas diri dan keimanan, serta kesempatan untuk bertafakur dan memperbanyak amal kebajikan.
Pimpinan Harian DDI Patojo, Supriadi, merinci bahwa kegiatan daurah akan diisi dengan penataran mubalig dan pelatihan intensif bagi santri yang bertugas selama Ramadan. Penataran mubalig akan dimulai pada 10 Februari, di mana pada siang hari santri mengikuti penataran, sementara malam hari diisi dengan pelatihan dan bimbingan intensif.
Saat ini, sekitar 20 dai dari DDI Patojo telah dipastikan memiliki lokasi tugas selama Ramadan, dengan potensi jumlah tersebut dapat bertambah hingga hampir 30 dai, tergantung pada permintaan masyarakat. Santri yang ditugaskan merupakan santri aktif yang selama ini rutin mengisi khotbah Jumat di berbagai masjid, dan seringkali diminta langsung oleh panitia masjid untuk bertugas sebagai imam tarawih dan penceramah selama Ramadan.
Melalui kegiatan daurah ini, DDI Patojo berharap para santri semakin siap berkontribusi dalam dakwah dan pembinaan umat selama bulan suci Ramadan.

















Discussion about this post