Misteri Hilangnya Pelajar 14 Tahun di Ponorogo: Ditemukan Tewas di Sumur Tua Setelah Tradisi Pencarian
Tragedi menyelimuti Dukuh Gupit, Desa Bulu Lor, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. AS, seorang pelajar berusia 14 tahun, yang dilaporkan hilang sejak Jumat, 6 Februari 2026, akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di sebuah sumur tua pada Minggu, 8 Februari 2026. Penemuan jasadnya mengakhiri pencarian yang dilakukan oleh warga setempat dengan melibatkan tradisi unik “buk buk teng” yang sempat menjadi viral di media sosial.
Kronologi Penemuan Jasad di Sumur Tua
Ipda John Anderson Batara Aryasena, S.Tr.I.K, Pamapta I Polres Ponorogo, menjelaskan kronologi penemuan jasad AS. Pihaknya menerima laporan awal mengenai penemuan mayat di dalam sumur di Dukuh Gupit. Setelah menerima laporan tersebut, tim kepolisian segera berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo untuk melakukan evakuasi.
“Kami mendapatkan laporan awal bahwa ada mayat ditemukan di dalam sumur di Dukuh Gupit, Desa Bulu Lor, Kecamatan Jambon. Kami ke lokasi,” ungkap Ipda John pada Senin, 9 Februari 2026.
Sumur tua yang menjadi lokasi penemuan jasad AS diketahui memiliki kedalaman sekitar 40 meter. Hal ini memerlukan koordinasi dan persiapan matang untuk proses evakuasi.
Tradisi “Buk Buk Teng”: Upaya Pencarian yang Menyentuh Hati
Sebelum jasad AS ditemukan, warga Dukuh Gupit telah melakukan berbagai upaya pencarian. Salah satu metode yang digunakan adalah tradisi “buk buk teng”. Tradisi ini merupakan cara pencarian orang hilang secara tradisional yang melibatkan warga dalam satu area untuk mencari secara bersama-sama.
Dalam tradisi “buk buk teng”, para warga biasanya membawa kentongan dan alat lainnya yang dapat menghasilkan suara. Mereka berkeliling di area sekitar rumah korban sambil membunyikan alat-alat tersebut. Tujuannya adalah untuk menarik perhatian orang yang hilang agar terdengar, atau sekadar untuk memberitahu bahwa ada pencarian sedang berlangsung.
Proses pencarian dengan tradisi “buk buk teng” ini menarik perhatian publik dan bahkan sempat menjadi viral di berbagai platform media sosial. Sebuah video yang diunggah oleh akun Instagram @infoponorogo memperlihatkan beberapa warga tengah melakukan pencarian dengan membawa kentongan dan membunyikannya. Dalam video tersebut, terdengar suara kentongan yang berirama, diselingi seruan dari warga yang memanggil nama korban, “Balik le. Ng ndi kowe” (Pulanglah nak. Kamu di mana).
Titik Terang dalam Pencarian: Bau Menyengat dari Sumur
Ketika pencarian dengan tradisi “buk buk teng” sedang berlangsung, warga mulai mencium bau yang menyengat dari arah sumur tua yang berjarak sekitar 100 meter di sebelah utara rumah korban. Bau tersebut menjadi petunjuk awal bahwa ada sesuatu yang tidak beres di sekitar sumur.
Salah seorang warga yang penasaran kemudian mencoba melihat ke dalam sumur menggunakan senter. Dari pengamatannya, warga tersebut melihat sesosok tubuh yang mengapung di dalam air sumur. Penemuan ini segera dilaporkan kepada pihak berwajib.
Detail Kejadian: Hilang Setelah Pulang Sekolah
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari Polsek Jambon, AS terakhir kali terlihat meninggalkan rumah pada Jumat, 6 Februari 2026, sekitar pukul 11.00 WIB. Saat itu, AS baru saja pulang dari sekolah.
Menurut keterangan, AS sempat berganti pakaian di rumah. Ia mengenakan kaos olahraga SMPN 1 Jambon dan celana panjang berwarna biru dongker. Setelah itu, ia kembali pergi dari rumah tanpa berpamitan dan tanpa mengenakan alas kaki.
Pergi tanpa pamit dan tanpa alas kaki ini menjadi salah satu kejanggalan yang kemudian memicu kekhawatiran keluarga dan warga. Pencarian pun segera dilakukan, yang puncaknya adalah penemuan jasadnya di sumur tua setelah upaya pencarian yang melibatkan tradisi unik.
Proses Evakuasi dan Lanjutan Penyelidikan
Proses evakuasi jasad AS dari sumur yang dalam membutuhkan bantuan tim Basarnas dari Kabupaten Trenggalek. Kedalaman sumur yang mencapai 40 meter memerlukan peralatan dan keahlian khusus untuk memastikan evakuasi berjalan aman.
Pihak kepolisian masih terus melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti kematian AS dan apakah ada unsur lain yang terlibat dalam peristiwa tragis ini.
Kisah hilangnya AS dan penemuannya di sumur tua ini menjadi pengingat akan pentingnya komunikasi dalam keluarga dan kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar, terutama bagi anak-anak dan remaja. Tradisi “buk buk teng” yang dilakukan warga menunjukkan solidaritas dan kepedulian komunitas dalam menghadapi musibah, meskipun hasil akhirnya adalah duka mendalam.
Penemuan jasad AS di sumur tua ini mengakhiri penantian panjang keluarga dan warga. Namun, misteri di balik kepergiannya yang mendadak masih menyisakan pertanyaan yang diharapkan dapat terjawab melalui proses penyelidikan yang sedang berlangsung.

















Discussion about this post