JAKARTA, – Polisi masih menyelidiki penyebab kematian satu keluarga yang ditemukan di sebuah rumah kontrakan di Jalan Warakas VIII Gang 10, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Hingga kini, penyelidikan difokuskan pada pemeriksaan saksi dan menunggu hasil autopsi serta toksikologi untuk memastikan penyebab kematian para korban.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Utara AKBP Onkoseno Gradiarso Sukaha mengatakan, proses penyelidikan masih berjalan dan belum mengarah pada kesimpulan apa pun.
“Penambahannya masih memeriksa saksi-saksi,” tutur Onkoseno saat dikonfirmasi , Minggu (4/1/2026).
Onkoseno menjelaskan, sejauh ini polisi telah memeriksa 10 orang saksi yang seluruhnya merupakan tetangga korban. Sementara itu, satu korban selamat belum dapat dimintai keterangan karena masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Selain pemeriksaan saksi, polisi juga masih menunggu hasil otopsi dan pemeriksaan toksikologi dari Rumah Sakit Polri Kramat Jati.
Menurut Onkoseno, hasil pemeriksaan tersebut menjadi kunci untuk mengetahui secara pasti penyebab kematian para korban.
“Iya (masih menunggu hasil toksikologi), itu belum tahu kapan keluar dan bisa diungkap,” ujar dia.
Sebelumnya diberitakan, seorang ibu berinisial S (50), anak perempuan berinisial AA (27), dan anak laki-laki berinisial AA (13) ditemukan tewas di rumah kontrakan tersebut pada Jumat (2/1/2026). Ketiganya ditemukan dalam kondisi tergeletak di dalam rumah.
Selain tiga korban meninggal, satu anak S lainnya juga menjadi korban dalam peristiwa ini. Anak tersebut ditemukan masih hidup, namun dalam kondisi kritis dan kini dirawat secara intensif di rumah sakit.
Para korban pertama kali ditemukan oleh anak S lainnya yang baru pulang bekerja sekitar pukul 07.30 WIB. Saat tiba di rumah, ia mendapati kondisi keluarganya tidak bernyawa dan langsung berteriak meminta pertolongan warga sekitar.
Seorang warga bernama Aryuni Wulan Febri (51) kemudian masuk ke dalam rumah kontrakan untuk memeriksa keadaan korban.
Ia menemukan S, AA, dan AA sudah tergeletak kaku dengan mulut berbusa, sementara satu anak lainnya masih hidup dalam kondisi parah.
Setelah itu, Aryuni segera menghubungi ketua RT setempat dan pihak kepolisian untuk melaporkan kejadian tersebut.

















Discussion about this post