Robert Kiyosaki, penulis buku finansial ternama “Rich Dad Poor Dad”, baru-baru ini mengeluarkan peringatan penting bagi para investor yang melirik komoditas, khususnya perak. Ia memprediksi bahwa gelembung harga perak yang saat ini sedang membesar akan segera pecah. Prediksi ini mengindikasikan adanya potensi koreksi harga yang tajam dalam waktu dekat, sebelum akhirnya logam mulia ini meroket ke level yang luar biasa tinggi pada tahun depan.
Melalui akun media sosial X pribadinya, Kiyosaki menyuarakan kekhawatirannya mengenai potensi keruntuhan pasar yang dipicu oleh fenomena Fear of Missing Out (FOMO). Ia menilai bahwa FOMO telah menjangkiti para pelaku pasar saat ini, mendorong mereka untuk berinvestasi tanpa pertimbangan matang. “Apakah gelembung perak akan segera pecah? Kehancuran mania FOMO akan datang,” tulisnya dalam akun @theRealKiyosaki pada Senin, 29 Desember 2025.
Kiyosaki, yang mengaku telah mengoleksi perak sejak tahun 1965, memberikan saran berharga kepada para investor. Ia menganjurkan agar investor menahan diri dan tidak terburu-buru melakukan aksi beli ketika harga perak berada di puncaknya. Strategi wait and see atau mengamati dan menunggu direkomendasikan olehnya untuk menangkap momentum ketika harga perak mengalami penurunan. “Jika Anda berencana berinvestasi perak, bersabarlah. Tunggu hingga terjadi crash, lalu masuk [beli] atau tidak,” demikian sarannya.
Meskipun memprediksi adanya badai koreksi dalam jangka pendek, pandangan Kiyosaki terhadap perak, yang ia sebut sebagai ‘saudara emas’, tetap sangat positif dalam jangka panjang. Ia meyakini bahwa setelah fase koreksi tersebut mereda, harga perak akan mengalami lonjakan signifikan, diperkirakan mencapai US$100 hingga US$200 per ons pada tahun 2026.
Kiyosaki juga mengingatkan kembali prinsip dasar investasi yang diajarkan oleh mendiang ‘Rich Dad’-nya. Baginya, keuntungan seorang investor sesungguhnya ditentukan pada saat ia memasuki pasar (entry point), bukan saat ia keluar dari pasar (exit point). “Keuntungan Anda dibuat saat Anda membeli… BUKAN saat Anda menjual. Kesabaran sangat penting bagi investor cerdas,” tegasnya.
Perak Capai Rekor Tertinggi Baru
Perlu dicatat bahwa prediksi Kiyosaki ini muncul di tengah lonjakan harga perak yang baru-baru ini mencapai rekor baru. Untuk pertama kalinya, harga perak sempat menembus level di atas US$80 per ons, yang setara dengan sekitar Rp1,34 juta per ons. Pencapaian ini menandai perpanjangan reli akhir tahun yang bersejarah bagi komoditas perak.
Berdasarkan laporan Bloomberg pada Senin, 29 Desember 2025, logam mulia ini telah mencatatkan kenaikan dalam enam sesi perdagangan berturut-turut. Lonjakan sebesar 10% pada hari Jumat sebelumnya merupakan kenaikan harian terbesar yang pernah terjadi sejak tahun 2008. Sementara itu, data dari Reuters menunjukkan bahwa harga perak di pasar spot berada di level US$83,50 per ons pada pukul 06.43 WIB kemarin.
Faktor Pendorong Kenaikan Harga Perak
Kenaikan harga perak yang terjadi belakangan ini didukung oleh beberapa faktor utama:
- Arus Masuk Spekulatif: Adanya minat beli yang kuat dari investor spekulatif turut mendorong kenaikan harga.
- Dislokasi Pasokan: Gangguan pasokan yang masih terjadi di pusat-pusat perdagangan utama, pasca-kejadian short squeeze pada bulan Oktober lalu, turut berkontribusi pada kelangkaan dan kenaikan harga.
- Permintaan Logam Mulia: Komoditas, khususnya logam mulia seperti emas, perak, dan platinum, telah menjadi sektor yang sangat diminati di pasar keuangan dalam beberapa hari terakhir. Ketiga logam mulia ini bahkan sempat melonjak ke rekor tertinggi pada Jumat pekan lalu, memperpanjang reli akhir tahun.
- Ketegangan Geopolitik: Meningkatnya ketegangan geopolitik global menjadi salah satu pendorong utama permintaan aset safe haven seperti logam mulia.
- Pelemahan Dolar AS: Pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat juga cenderung membuat komoditas, termasuk perak, menjadi lebih menarik bagi investor internasional.
- Likuiditas Pasar yang Tipis: Likuiditas pasar yang menipis, terutama menjelang akhir tahun, dapat memperbesar volatilitas harga dan mempercepat kenaikan.
- Pembelian oleh Bank Sentral: Lonjakan ini juga didukung oleh pembelian signifikan dari bank sentral di berbagai negara.
- Arus Masuk ke ETF: Dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) yang berfokus pada logam mulia juga mengalami arus masuk investasi yang tinggi.
- Pelonggaran Kebijakan Moneter: Kebijakan pelonggaran moneter oleh bank sentral, seperti potensi penurunan suku bunga, menjadi pendorong bagi logam mulia. Para pedagang kini bertaruh pada kemungkinan penurunan suku bunga lebih lanjut pada tahun 2026, yang secara historis menguntungkan investasi pada logam mulia.
Dengan demikian, meskipun peringatan dari Robert Kiyosaki menekankan pentingnya kehati-hatian dan kesabaran, tren kenaikan harga perak saat ini didorong oleh kombinasi faktor fundamental dan sentimen pasar yang kuat. Investor disarankan untuk mencermati dinamika pasar ini dengan cermat dan menerapkan strategi investasi yang bijak.
















Discussion about this post