Program Makan Bergizi Gratis di SMKN 11 Semarang Dihentikan Sementara Pasca Dugaan Keracunan
SEMARANG – Menindaklanjuti insiden dugaan keracunan yang menimpa 75 siswa pada Kamis (8 Januari 2026), penyaluran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN 11 Semarang terpaksa dihentikan sementara. Keputusan ini diambil sebagai langkah antisipatif sembari menunggu hasil investigasi laboratorium yang tengah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I Jawa Tengah, Haris Wahyudi, mengonfirmasi penghentian sementara program tersebut. “Ya, betul sekali, kemarin (Jumat) program ini dihentikan sementara. Bahkan, untuk hari Senin (12 Januari 2025) pun kami belum akan memulai kembali. Kami masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) maupun dari Dinas Kesehatan Kota,” ujar Haris.
Haris juga menyampaikan kabar baik bahwa seluruh siswa yang terdampak dugaan keracunan kini telah pulih sepenuhnya. Tidak ada laporan tambahan mengenai keluhan mual dan muntah dari siswa maupun orang tua mereka setelah mengonsumsi makanan dari program MBG. “Tidak ada tambahan laporan sama sekali. Tadi pagi kami sudah konfirmasi ke orang tua dari 75 siswa tersebut, dan alhamdulillah semuanya sudah sehat. Bahkan, siswa yang sempat dirawat di rumah sakit juga sudah diizinkan pulang,” tambahnya.
Empat siswa yang sebelumnya harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit juga telah menunjukkan perkembangan positif dan diizinkan kembali ke rumah sejak Sabtu lalu (10 Januari 2025).
Menanti Hasil Uji Bakteri dan Evaluasi Menyeluruh
Proses investigasi yang dilakukan tidak hanya berhenti pada pemulihan siswa. Pihak berwenang kini tengah menunggu hasil uji laboratorium yang lebih mendalam, khususnya terkait kandungan bakteri. Sebelumnya, hasil pemeriksaan dari BPOM telah disampaikan kepada pihak sekolah, yang menyatakan bahwa sampel makanan tidak mengandung boraks.
“Hasil pemeriksaan dari BPOM terkait kandungan boraks memang sudah keluar dan hasilnya negatif. Namun, untuk hasil uji bakteri dari Dinas Kesehatan Kota Semarang masih dalam proses dan kami masih menunggunya,” jelas Haris.
Selain itu, bersamaan dengan proses laboratorium, pihak sekolah, Dinas Kesehatan, Dinas Kesehatan Kota, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dan Badan Gizi Nasional (BGN) juga tengah melakukan sosialisasi kepada para siswa. Tujuannya adalah untuk mencegah timbulnya trauma terhadap program MBG dan mengedukasi mereka tentang pentingnya makanan sehat dan layak konsumsi.
Haris memastikan bahwa program MBG ini baru akan dilanjutkan setelah dilakukan evaluasi menyeluruh. “Intinya, kami akan memberikan edukasi kepada anak-anak mengenai makanan yang sehat dan layak dikonsumsi. Nanti, jika hasil evaluasi sudah keluar dan program ini dinyatakan aman untuk dilaksanakan kembali, baru kami akan melanjutkannya. Untuk sementara ini, belum, bahkan untuk besok pun belum akan dimulai,” tegasnya.
Koordinasi intensif juga telah dilakukan dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pudak Payung 04, selaku penyedia layanan MBG untuk SMKN 11 Semarang, terkait dengan insiden yang terjadi.
Satgas MBG Minta SPPG Tingkatkan Ketelitian
Di sisi lain, Sekretaris Satgas Percepatan MBG Jawa Tengah, Hanung Triyono, juga membenarkan bahwa penanganan dugaan keracunan di SMKN 11 Semarang telah selesai dan seluruh siswa yang terdampak telah pulih.
“Berdasarkan informasi yang kami terima, dugaan penyebab keracunan kali ini berasal dari ayam rebus yang disajikan. Namun, insiden ini sudah ditangani dan diselesaikan. Kami juga menekankan bahwa Standard Operating Procedure (SOP) dalam penyediaan makanan harus ditingkatkan ketelitiannya,” ujar Hanung.
Hanung menambahkan bahwa SPPG yang menyuplai program MBG di SMKN 11 Semarang telah mengantongi berbagai standar kelayakan dan sertifikasi, termasuk Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Meskipun demikian, kepemilikan sertifikasi ini tidak boleh membuat pihak SPPG menjadi lengah dalam setiap tahapan proses pengolahan hingga penyajian makanan.
“Mereka memang sudah memiliki SLHS, namun mungkin ada faktor lain yang perlu diperhatikan, seperti durasi waktu penyajian makanan atau hal-hal teknis lainnya yang bisa memengaruhi kualitas makanan,” tutup Hanung.

















Discussion about this post