Banjir Landa Sejumlah Wilayah di Kendal dan Pekalongan, Ribuan Jiwa Terdampak
Hujan deras yang mengguyur sejumlah wilayah di Jawa Tengah dalam beberapa hari terakhir menyebabkan banjir meluas di Kabupaten Kendal dan Kota Pekalongan, serta Kabupaten Pekalongan. Peristiwa ini memaksa ribuan warga mengungsi dan menimbulkan kerugian materiel yang tidak sedikit.
Dampak Banjir di Kabupaten Kendal
Di Kabupaten Kendal, banjir mulai merendam permukiman warga sejak Jumat (16/1/2026) sore. Salah satu warga yang terdampak adalah Siti Istiyawati, yang tinggal di Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kendal Kota. Ia harus pasrah melihat rumahnya tergenang air hingga setinggi lutut.
“Tadi sore (Jumat lalu) air masuk rumah di atas lutut, ini alhamdulillah agak surut meskipun belum sepenuhnya,” ujar Siti saat ditemui di rumahnya pada Sabtu (17/1/2026). Siti mengaku belum sempat menyelamatkan barang-barangnya saat air tiba-tiba datang. Sepeda motor dan peralatan rumah tangga miliknya ikut terendam. Pengalaman ini merupakan yang pertama kali baginya sejak tujuh tahun tinggal di daerah tersebut. Meskipun demikian, Siti bertekad untuk tetap bertahan di rumahnya, berharap air segera surut.
Menurut Sekretaris Kelurahan Ketapang, Zaenal Arifin, banjir di wilayahnya berdampak pada 317 rumah dan 357 Kepala Keluarga (KK), melibatkan sekitar 1.137 jiwa.
Kasi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kendal, Iwan Sulistyo, menjelaskan bahwa banjir akibat hujan deras pada Kamis (15/1/2026) dan Jumat (16/1/2026) malam meluas ke tujuh kecamatan. Ketujuh kecamatan tersebut meliputi Kendal Kota, Ngampel, Brangsong, Kaliwungu, Kaliwungu Selatan, Pegandon, dan Rowosari.
Pada Sabtu (17/1/2026) pukul 07.00, beberapa lokasi banjir dilaporkan telah surut, di antaranya Kecamatan Kaliwungu Selatan, Pegandon, Brangsong, serta sebagian wilayah Kaliwungu dan Ngampel.
Namun, beberapa desa di Kecamatan Ngampel masih terendam. Desa Ngampel Kulon mengalami ketinggian air antara 10-40 sentimeter. Dusun Dalangan (Desa Banyuurip), Dempelrejo, serta Putatgede juga tergenang air dengan ketinggian 5-30 sentimeter.
Hampir seluruh wilayah Kecamatan Kendal Kota juga terendam air dengan ketinggian bervariasi, mulai dari 5 hingga 70 sentimeter. Banjir di wilayah ini disebabkan oleh dibukanya pintu 4 Bendung Trompo. Ketinggian air tertinggi dilaporkan di Kelurahan Ketapang, mencapai 70 sentimeter.
Di Kecamatan Kaliwungu, banjir masih menggenangi Desa Kumpulrejo dengan ketinggian air 10-100 sentimeter. Desa Sarirejo dan Wonorejo juga terdampak dengan ketinggian air 10-40 sentimeter. Sementara di Kecamatan Rowosari, banjir melanda Jalan Taruna Gilisari Sendang RT 02 RW 01 dan Dusun Bulak dengan ketinggian 10 sentimeter.
Banjir Melanda Kota Pekalongan
Di Kota Pekalongan, banjir akibat limpasan Sungai Bremi dan cuaca ekstrem merendam sejumlah wilayah pada Sabtu (17/1/2026). Hingga pukul 14.00, BPBD Kota Pekalongan mencatat sedikitnya 8.692 KK di empat kecamatan terdampak, dengan 972 jiwa terpaksa mengungsi.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Pekalongan, Budi Suheryanto, menjelaskan bahwa hujan intensitas sedang hingga tinggi yang disertai angin kencang mengguyur Kota Pekalongan sejak Jumat (16/1/2026) pukul 19.30 hingga Sabtu dini hari pukul 03.00. Kondisi ini diperparah oleh hujan di wilayah selatan Kota Pekalongan yang menyebabkan Daerah Aliran Sungai (DAS) meluap ke wilayah perkotaan yang berada di dataran rendah.
“Genangan air bervariasi mulai dari 10 sentimeter hingga mencapai 100 sentimeter di sejumlah titik,” ujar Budi.
Sejumlah ruas jalan utama dan permukiman warga terdampak, meliputi Jalan Progo, Jalan Slamet, Jalan Majapahit, Jalan Cempaka, Jalan Semarang, Jalan Blimbing, Jalan Jlamprang, kawasan Pabean, Kampung Baru Tirto, hingga Jalan Singosari. Ketinggian air di beberapa wilayah, seperti Kampung Baru Tirto, tercatat mencapai 50 hingga 100 sentimeter.
Banjir merendam wilayah di Kecamatan Pekalongan Timur, Barat, Selatan, dan Utara. Kecamatan Pekalongan Barat menjadi wilayah dengan dampak terluas, meliputi Kelurahan Tirto, Podosugih, Sapuro Kebulen, Bendan Kergon, Pringrejo, Medono, hingga Buaran Kradenan, dengan ketinggian air antara 30 hingga 80 sentimeter.
Pemerintah daerah bersama unsur TNI, Polri, dan relawan telah membuka sejumlah lokasi pengungsian. Hingga Sabtu pukul 10.45, total pengungsi tercatat 972 jiwa, tersebar di Aula Kecamatan Pekalongan Barat, masjid dan musala di wilayah Tirto dan Podosugih, SD Negeri Tirto 03, serta bangunan fasilitas umum lainnya.
Kebutuhan mendesak di lokasi pengungsian antara lain obat-obatan, balsem, minyak kayu putih, salep, selimut, serta popok bayi dan dewasa. BPBD Kota Pekalongan terus berupaya melakukan penanganan darurat, termasuk monitoring, evakuasi warga, asesmen dampak bencana, pendataan korban, dan koordinasi lintas sektor. Posko kebencanaan juga telah diaktifkan untuk mendukung pelayanan pengungsian dan distribusi logistik.
Banjir di Kabupaten Pekalongan
Di Kabupaten Pekalongan, banjir merendam sedikitnya 90 rumah di Dukuh Tugurejo RT 01 dan 02 RW 05, Desa Pait, Kecamatan Siwalan. Banjir terjadi sejak Sabtu (17/1/2026) dini hari akibat curah hujan tinggi yang berlangsung lebih dari lima jam.
Kepala Bidang Penanggulangan Bencana PMI Kabupaten Pekalongan, Bambang Sujatmiko, menyatakan bahwa banjir menyebabkan air meluap dan menggenangi permukiman warga dengan ketinggian antara 30-100 sentimeter. Sebanyak 90 KK atau 285 jiwa terdampak, dan 15 KK atau 68 jiwa terpaksa mengungsi di mes pabrik Lokatex, Kecamatan Siwalan.
Para pengungsi terdiri dari berbagai kelompok usia, mulai dari lansia, dewasa, remaja, anak-anak, hingga balita. Hingga saat ini, tidak ada laporan korban jiwa maupun kerusakan rumah permanen, namun seluruh rumah warga di lokasi terdampak terendam air.
PMI Kabupaten Pekalongan telah melakukan asesmen lapangan, evakuasi warga, serta pelayanan ambulans. Kebutuhan mendesak para pengungsi yang terinventarisasi meliputi logistik makanan dan minuman, alas tidur, selimut, tikar, perlengkapan bayi, obat-obatan, serta perlengkapan mandi.

















Discussion about this post