
Wajah Batam news -Suasana sore di Fakultas Hukum Universitas Riau Kepulauan, Batam, Jumat, 6 Februari 2026, terasa berbeda. Menjelang pukul lima petang, pintu ruang sidang masih tertutup rapat. Di dalam ruangan itu, seorang ayah sedang berjuang mempertahankan skripsinya.
Di luar, dua anak kecil menunggu dengan harapan yang sederhana: melihat ayahnya keluar dengan senyum.
Nama ayah itu, Jonrius Sinurat.
Hari itu bukan sekadar sidang skripsi. Itu adalah puncak perjalanan panjang seorang suami dan ayah, yang membagi hidupnya antara pekerjaan, tanggung jawab keluarga, dan bangku kuliah.
Skripsi yang ia pertahankan mengangkat tema tentang perlindungan wartawan dan kemerdekaan pers. Sebuah topik yang berat, seberat perjuangan yang ia jalani selama menempuh pendidikan.
Di hadapan para penguji, Jonrius berusaha tenang. Namun di balik sikapnya, ada degup yang tak bisa disembunyikan. Ia tahu, di luar sana, dua anaknya menunggu kabar.
Ketika para penguji mulai memberikan penilaian, harapan itu perlahan berubah menjadi kenyataan. Skripsinya dinilai baik, analisisnya kuat, dan akhirnya keputusan pun dibacakan.
Jonrius Sinurat dinyatakan lulus, dengan nilai sangat memuaskan.
Ia menunduk. Mengucap syukur. Mengingat wajah orang-orang yang selalu percaya padanya, bahkan ketika ia hampir ragu pada dirinya sendiri.
Pintu sidang pun terbuka.
Dua anaknya langsung berdiri. Mereka melihat senyum di wajah sang ayah. Tanpa perlu kata-kata, mereka sudah tahu jawabannya.
“ Kami bangga sama Papa,” ucap sang anak dengan mata berbinar.
“Papa sudah berjuang. Papa menang,” bisik adiknya.
Momen sederhana itu, menjadi kemenangan yang tak bisa diukur dengan angka.
Sang istri, Lianni Nababan, tidak bisa hadir karena harus bekerja. Namun dukungannya selalu ada di setiap langkah perjuangan Jonrius.
“ Saya tahu perjuangan suami saya. Pulang kerja masih belajar. Hari ini Tuhan menjawab semua usaha itu. Kami sangat bangga,” ucapnya.
Ucapan selamat pun berdatangan dari kampus, dosen, sahabat, dan keluarga. Namun bagi Jonrius, sorot mata anak-anaknya adalah penghargaan paling tinggi.
Tiga jam setelah sidang, telepon dari sang ibu masuk. Ia hanya ingin menanyakan kabar, tanpa tahu bahwa anaknya baru saja menjadi sarjana hukum.
“ Berarti ini gerakan batin… aku cuma mau tanya kabarmu saja,” kata ibunya.
Restu orang tua, datang tepat pada waktunya.
Sore itu berubah menjadi perayaan kecil. Jonrius menggandeng anak-anaknya berkeliling kampus, berfoto di depan gedung fakultas, dan halaman rektorat. Setiap gambar menjadi bukti, bahwa mimpi bisa dicapai, bahkan ketika jalan terasa panjang.
“Gelar ini saya persembahkan untuk istri dan anak-anak saya. Mereka alasan saya tidak boleh menyerah,” ujar Jonrius.
Hari itu, bukan hanya seorang mahasiswa yang dinyatakan lulus. Seorang ayah telah menunjukkan arti ketekunan. Seorang suami telah membuktikan bahwa cinta bisa menjadi tenaga paling kuat dalam perjuangan.
Kini, Jonrius Sinurat, Sarjana Hukum, melangkah ke masa depan. Bukan sendirian. Melainkan bersama keluarga, yang setia berjalan di sampingnya.

















Discussion about this post